Riset Indonesia, Fokus Kemana?

Jakarta, 29 November 2013 – Humas LIPI). Tantangan global pengembangan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) di antara negara-negara di dunia ke depan terasa semakin sengit. Agar mampu bersaing, Indonesia setidaknya harus mampu memunculkan riset-riset yang diunggulkan. Artinya, Indonesia perlu menentukan arah riset/penelitian akan dibawa kemana?

“Pada area tertentu, Indonesia punya yang diunggulkan. Misalnya, pertanian dan bioteknologi. Sayangnya, hal itu belum menjadi unggul di tingkat regional maupun dunia,” ungkap Kepala Bidang Sistem Informasi Iptek sekaligus Peneliti Pusat Penelitian Perkembangan Iptek (Pappiptek) LIPI Nani Grace Berliana, M.Hum saat menjadi narasumber Program Talkshow “Indonesia Bersaing” di Radio Sindo Trijaya 10.46 FM, Selasa (26/11) lalu. Program talkshow tersebut selain menghadirkan Nani Grace Berliana sebagai narasumber, hadir pula Peneliti Pappiptek LIPI lainnya Prakoso Bhairawa Putera.

Prakoso menambahkan, ada enam pilar pembangunan Iptek, di antaranya adalah fokus pada bidang riset. “Bidang riset memiliki cakupan luas. Kita tidak dapat mengambil semua area, tetapi sebaiknya melihat pada potensi yang ada, misalnya fokus Indonesia adalah pada bidang hayati, selain melihat pula bidang-bidang lainnya,” tandasnya.

Selain menentukan fokus, lanjutnya, Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas dan kuantitas peneliti. “Perekrutan dan perubahan cara pandang menjadi penting dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas peneliti dan hasil penelitiannya. Kita juga harus bangga menggunakan produk dalam negeri dari hasil riset”, terangnya.

Masih Minim

Di lain hal, Grace, panggilan akrab Nani Grace Berliana menyebutkan bahwa peneliti atau periset Indonesia masih sedikit atau minim jumlahnya, hanya 0,08 persen dari jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data tahun 2012. Padahal, minimalnya 1 persen dari jumlah penduduk Indonesia, walaupun itu masih belum cukup.

“Sementara pada sektor industri, sebanyak 27.000 industri yang ada di Indonesia, hanya 300 di antaranya mengaku melakukan kegiatan penelitian,” ungkapnya. Hal itu tentu menjadi keprihatinan tersendiri.

Menurut Grace, saat ini yang perlu diupayakan bersama adalah bagaimana mendorong industri menjadi penggiat riset, meningkatkan sinergi antar lembaga Litbang (Penelitian dan Pengembangan), dan tentunya fokus menentukan serta mengerjakan riset.

Selain itu, Prakoso menambahkan, langkah yang harus diambil segera adalah meningkatkan jumlah, anggaran, dan memperhatikan proporsi kebutuhan riset.

“Riset yang dilakukan harus melihat seberapa besar dampaknya dan memastikan apakah hasil penelitian tersebut bermanfaat kepada masyarakat. Walaupun hasil riset tidak bisa langsung diukur tetapi hasilnya akan terlihat dalam jangka waktu tiga hingga empat tahun ke depan,” jelasnya. (de)

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1385710790&&2013, edisi 29 Nov 2013

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More