Nostalgian Kuliner di Kota Palembang

Kerinduan itu segera menuntun kaki saya menyusuri tempat-tempat yang sedari kuliah dulu menjadi tempat pilihan saya bersama rekan-rekan menghabiskan akhir pekan atau sekadar mentraktir para sahabat. (*Prakoso Bhairawa Putera)

ARAH PERUBAHAN UU IPTEK

Namun, rencana perubahan tidak mencantumkan peneliti dan perekayasa sebagai bagian penting dari sumber daya.Padahal, pelaku aktivitas penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek terletak pada peneliti dan perekayasa.

Makam Kesultanan Palembang Darussalam

Masyarakat Palembang mengenal kompleks pemakaman ini dengan sebutan Kawah Tekurep. Nama tersebut berasal dari bentuk atap bangunan utama pemakaman yang berbentuk cungkup (kubah) melengkung berwarna hijau. (*Prakoso Bhairawa Putera)

Penyerahan Hadiah Pemenang LKTI Seskoal 2012

Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Arief Rudianto, SE., menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba karya tulis ilmiah dengan tema “Menuju Kejayaan NKRI sebagai Negara Kepulauan yang Bervisi Maritim”.

"MABUK OTDA" KETIKA DAERAH BARU (DINILAI) GAGAL

Gegap gempita otonomi ternyata membawa konsekuensi logis dengan perubahan dalam sistem pemerintahan daerah.(Esquire Indonesia, Juni 2013 *Prakoso Bhairawa Putera)

Tampilkan postingan dengan label CERITA KOKO. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA KOKO. Tampilkan semua postingan

Catatan #1 Selepas Sekolah - "Gank 12"

Akhirnya kelar juga perjalanan dua tahun (2010 - 2012) menjalani hari-hari sebagai Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Administrasi dan Kebijakan Publik di Universitas Indonesia. Setelah berjibaku dengan tugas-tugas kuliah, UTS, UAS hingga tantangan akhir berupa tesis berhasil dilewati. Ehmmm,.. tidak ada hal yang paling menyenangkan selain Studi,..ya,.begitulah perasaan saat ini yang dimulai dirasakan...

Selama menjadi mahasiswa (tugas belajar) selalu menyenangkan, dimana pagi hari terkadang mampir dan mengerjakan beberapa riset di Kantor dan menjelang sore harus mengejar waktu untuk dapat datang tepat waktu di Kampus PGT ataupun Kampus Salemba,..Macet adalah sisi lain yang begitu menambah warna selama menjalani hari-hari sebagai Mahasiswa. Ojek adalah pilihan terbaik tatkala taxi ataupun kendaraan umum lainnya susah menembus hiruk pikuknya ibu kota..

Makan bersama sebelum masuk kelas adalah kebersamaan yang tidak tergantikan. Selalu ada cerita di ruang makan, mulai dari katering yang tidak sedap di lidah, ataupun harus gigit jari karena susu kental manis yang selalu menjadi kesukaanku habis lantan telat datang. Canda tawa di ruang makan adalah kerinduang saya dan bisa jadi kerinduang 11 Mahasiswa di kelas Publik XX,..yah 

Gank 12 itulah nama kami,...ini hanyalah penamaan atas kedua belas anak-anak yang sebetulnya sudah tidak bisa dikatakan anak-anak, karena sebagian dari penghuni genarasi XX di kelas publik adalah orang-orang yang sudah mempunyai anak-anak (hehehehehe,..maklum rata-rata yang melanjutkan studi S2 di kelas publik merupakan ibu bapak). Mereka itu umumnya orang-orang hebat dari sedikit para pejabat, staf yang rela meluangkan waktu untuk kembali sekolah,..terkadang tatkala memasukin bulan-bulan April - Mei kelas sepi,.karena pada tugas dan dinas keluar kota, begitu juga menjelang akhir tahun,..selalu kosong.

Mbak "Dyah" adalah orang yang kami tunjuk sebagai ketua kelas,..seorang ibu yang begitu dewasa dalam memberikan nasihat tetapi lucu kalo sudah nonton film India,..hehehehe,..Beliau selalu menjadi penyemangat, teman, sahabat, sekaligus kakak yang tak henti-hentinya menjadikan saya mampu melangkah dalam beratnya hari-hari di kelas,.teman yang slalu berbagi ketika ada tugas kuliah yang tidak mampu dimengeri, sahabat yang selalu mau menemani adiknya nonton dan makan empek-empek, dan sahabat yang selalu ngomelin kalo saya suka uring-uringan mengenai calaon istri 'Amelya' (saat itu ya- tapi sekarang sudah menjadi istri). Ehm,,selalu dan selalu menjadi hangat jika Mbak Dyah hadir di kelas,..yang pastinya karena bisa pulang bareng (alias ditebengin sampe rumah) hehehehehe,...

Selain mbak Dyah,.ada tanteku "Saria", sebagai seorang tante pastilah Saria cukup isssstiiiimewahhh (seperti kata cherry belle), bukan karena dia cantik ataupun berpenampilan menarik (kalo itu sih muklak hehehe) tapi dia mengingatkan saya akan sosok wanita yang begitu akrab dalam perjalanan awal-awal di SMA (catat ini bukan menyamakan ya) hehehehe,..tapi cerita hidupnya yang membuat saya belajar untuk mampu tegak berdiri setelah sejumlah cobaan datang silih berganti...wanita yang ikhlas menjalani hari-hari dengan cerita dan cobaanya.

Ada cerita menarik dari sosok lelaki yang satu ini. Dia adalah "kakak pertama" di kelas,..yah sebagai paling senior dari sisi usia tapi beliau selalu menampilkan semangat untuk menghadiri kelas,..selalu membawa kesegaran ketika kelas sepi,..kelucuan dari cerita ataupun sindiran khas beliau menjadikan kami asyik dibuatnya. Padahal rutinitas dan hari-hari beliau begitu padat dengan jadwal,..maklum beliau adalah salah satu orang penting,..Namun kegigihan dan tanggung jawab akan studi menjadi hal yang paling membuat saya kagum akan sosok ini.

Bicara kelucuan dan ke'gokil'an sebenarnya ada yang lebih dari sosok kakak pertama,..tapi yang satu ini benar-benar Gokil,..bagaimana tidak setiap hari harus menjalani rutinitas pergi pulang Bandung - Jakarta untk kuliah,..bener-benar Gokil'kan. Mang Ayod itulah nama keren yang ia sematkan untuk dirinya,..khas Sunda begitu lekat dengan pria satu ini, bukan hanya asli boboto persib tetapi kerja keras dan semangatnya untuk melalui hari-hari PP luar biasa,..Namun, ia tetap datang ke kelas dengan senyum khas dan cerita yang lucu,..tanpa harus menyiratkan kelelahan karena lamanya perjalanan. Coba bayangkan perjalanan Bandung - Jakarta kurang lebih 3 Jam,..lalu di Kelas hanya 2 Jam saja, kemudian Jakarta - Bandung 3 Jam,..artinya 6 jam di perjalanan untuk 2 jam kuliah,.hal yang tidak dapat saya bayangkan untuk mampu saya lakukan. tapi itulah "Mang Ayod".

Sosok berikut ini punya cerita yang menarik,..harus absen cukup lama di kelas karena kecelakaan yang harus membuatnya menepi hingga di Cimande untuk melakukan terapi sampe akhirnya mampu menjalankan aktivitasnya kembali. Nilai kebersamaan kembali kami tunjukkan untuk hari-hari bersama dengan mbak yang satu ini. Hak yang membuat saya takjub adalah kegigihan untuk terus sekolah dalam kondisi yang sulit sekalipun coba ia jalanin,.benar-benar mengispirasi saya dari semangatmu mbak "liliek".

Nah,..kalo bapak yang satu ini tergolong pria yang "cool" hehehee,..tapi kalo sudah diskusi terasa sekali bernasnya,..Om 'Bose' begitulah kami menyapanya,..pria kelahiran Nias ini memiliki pembawaan yang klimis dan rapi (tapi tidak berkumis ya pak,..hehehehe),..Beliau selalu menjadi penolong ketika ada soal-soal hitungan dan mampu memberikan tutorial singkat yang sangat bermanfaat untuk menyelesaikan mata kuliah yang sulit,..benar-benar mentor yang luar biasa,..

Selain Om Bose ada juga Mbak Yuli, aktivis NGO yang selalu ribet dengan "sistem",..Mama dari Dora dan Stella ini sangat membantu dalam pengadaan buku materi kuliah dan referensi lainnya,..dan piawai dalam berdiskusi dan berdiplomasi,..mampu membuat suasana kelas menjadi rame dengan kritikan-kritikan

Masih Nyambu lagi..off dulu yeeee

(Re-Posting) Liburan Asyik di Fantasy Island

MONDAY, JUNE 26, 2006

Bermain di Fantasy Island
BEGITU padatnya aktivitas satu minggu dan beberapa hari terakhir, akhirnya pada minggu yang cerah akhirnya gw bareng keluarga bisa juga liburan. Hari Minggu adalah hari yang tepat. Pagi-pagi banget gw yang masih tidur sekitar pukul tujuh dibangunin Reza – sahabat gw buat berangkat. Tanpa sarapan dan mandi, gw langsung cabut. Di bawah, om-tante serta semua adik-adik kecil udah kumpul. Gw yang masih ngantuk gak banyak bicara pagi itu. Pagi Minggu emang asyik banget, udara masih sejuk dan penuh dengan keceriaan. Kalo seperti ini gw ingin Bangka, jujur ketika gw masih di Bangka, karena rumah gw dekat dengan perbukitan maka tiap pagi gw pasti melihat awan putih yang menutupi sebagian puncak bukit yang bisa ditempuh dengan berjalan dengan memakan waktu tidak lebih dari 2 jam.

“Kita ke Fantasi Island!” begitu kata Om pada semua..

Selalu Ceria ---
Gw yang masih gak sadar senyum-senyum aja, sedang adik-adik kecil gw langsung sumringah. Itulah keinginan mereka selama ini. Maklum Fantasy Island adalah satu-satunya tempat pemandian sekaligus wisata yang cukup terkenal, bersih dan aman di kota Palembang. Jaraknya sekitar 7 km dari rumah dan bisa ditempuh dengan 45 perjalanan. Tempat wisata keluarga ini mengadopsi konsep dari Taman Impian Jaya Ancol. Yah,...bisa dikatakan Ancolnya Palembah deh..bebarapa fasilitas dibuat semirip mungkin dengan Ancol, mulai dari kolam arus yang berbentuk lingkaran mengelilingi kolam utama, papan luncur sampai fasilitas go car. Nah buat menikmati fasilitas ini stiap orang akan dikenakan biaya masuk sebesar 40 ribu, ehmm lumayan besar banget untuk ukuran sebuah hiburan, tetapi enaknya gak mengenal waktu. Sehingga kita bisa aja masuk dari pagi hingga tempat itu tutup, tapi kayaknya ngak dehh...

Pagi itu ketika gw dan keluarga tiba, belum banyak yang datang, bahkan kita merupakan orang-orang pertama yang tiba, bahkan penjaga kolam sekaligun,.he..he..soalnya kalo udah siang airnya udah gak strill githu deh kata tante gw.. Nah meski kita harus menungggu sekitar 30 menit tapi no problemo, meski gw yang udah gerah banget buat mandi tetap aja keren, he..he..(liat aja tampang gw dengan rambut acak-acak di foto)..

Akhirnya gw dan semua masuk juga, tanpa basa basi gw buka baju langsung nyebur ke kolam,..coba maen papan luncur, sambil teriak..OOOOOOOOOOOOOOOOO

Walau Belum Mandi Tetap Gaya
Terus maen bareng adek-adek di kolam arus. Lantaran belum sarapan pagi, gw langsung menyantap pop mie,..enak, yam..yam...

Setelah puas dan senang banget sekitar jam 11 kita langsung back to home, but kita berhenti ditengah jalan buat cari makan siang...

Nah,..Minggu gw sepertinya asyik banget,..semoga minggu-minggu depan lebih baik lagi, bagaimana dengan kamu...i hope so...oke..bye....

(Re-Posting) Bertemu 136 Mahasiswa Terpilih

Kelompok Empat yang Selalu CERIA
”Wow..!” begitulah kata yang terlontar ketika sebagian peserta Pelayaran Kebangsaan VI tahun 2006 melihat ’rumah’ yang akan membawa mereka mengunjungi pulau Bangka, pulau Bintan, pulau Penyengat, dan pulau Tolop. Sebuah spanduk panjang bertuliskan ”Selamat Datang” dihiasi dengan pita biru menambah kebanggan para peserta yang datang. Siang itu, Senin (11/07) matahari tampak bersahabat dengan seluruh peserta Pelayaran Nusantara VI, satu persatu mahasiswa dan mahasiswi terpilih dari seluruh Indonesia mulai berdatangan di dermaga 115 Tanjung Priok-Jakarta Utara. Ada yang diantar ojek bagi mereka yang kebetulan datang dengan menggunakan bus hingga terminal Tanjung Priok, ada juga yang langsung diantar taksi. Kesan bangga bercampur bahagia terpancar dari raut wajah semua peserta yang melakukan daftar ulang di meja panitia. Bagaimana tidak selama kurang lebih sembilan hari mereka akan didaulat menjadi tamu istimewah di KRI Tanjung Nusanive-973 milik TNI Angkatan Laut.

Ketika Sandar di Tanjung Pinang
Pelayaran Kebangsaan tahun 2006 merupakan rangkaian lanjutan kegiatan serupa yang telah memasuki tahun ke enam. Untuk tahun 2006 Pelayaran Kebangsaan mengambil tema ”Perkokoh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Berbasis Kepulauan”. Kegiatan ini diikuti sebanyak 136 peserta dari 89 perguruan tinggi negeri maupun swasta se-Indonesia, ditambah 3 orang peserta dari setiap taruna Akademi Kepolisian dan 5 perwiara TNI AL. Para peserta tersebut adalah mahasiswa yang telah dinyatakan lolos serangkaian tes yang dilakukan oleh panitia dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi – Departemen Pendidikan Nasional. Sebelum dinyatakan lolos, mereka diharuskan membuat makalah/karya tulis tentang seputar permasalahan bangsa yang terjadi saat ini. Bukan hanya itu kemampuan akademis yang dibuktikan dengan standar indeks prestasi komulatif lebih dari 2,75 harus mereka patuhi. Kegiatan-kegiatan keorganisasian di kampus serta prestasi kulikuler juga menjadi penentu peserta yang dinyatakan lolos.

Menerima Penjelasan Seputar Peralatan Navigasi Kapal
Setelah melakukan daftar ulang, semua peserta di tempatkan pada kamar-kamar berukuran 3 x 5 meter. Kamar tersebut selanjutnya akan diisi oleh 4 orang peserta. Menjadi peserta Pelayaran Kebangsaan bukan hanya menjadikan kebanggan semata tetapi dengan semua fasilitas yang diberikan secara gratis tersebut, semua peserta berusaha untuk dapat menjadikan hari-hari esoknya lebih berguna bagi diri, keluarga, perguruan tinggi, nusa dan bangsa. Hal senada pun diungkapkan Presiden RI, Susilo Bambang Yudhoyono dalam sambutannya pada pembekalan tentang wawasan kebangsaan di Istana Negara sore Senin (11/07). Pada kesempatan itu, presiden menyempatkan diri beramah tamah dengan seluruh peserta.

Perjalanan hari pertama bagi sebagian peserta banyak dimanfaatkan untuk melakukan foto-foto dan saling berkenalan satu dengan yang lainnya. Guratan tawa dan senyum tak henti-henti terlihat dari setiap peserta. Walaupun, mereka harus menunggu lebih dari 4 jam di dermaga lantaran kapal sedang melakukan uji coba mesin dan simulasi pelayaran.

(Re-Posting) Hari Pertama dan Terakhir di KRI Tanjung Nusanive

MONDAY, JULY 24, 2006

KRI Tanjung Nusanive
Matahari sepertinya begitu bersemangat menyambut para peserta yang sedang menikmati suasana pagi Selasa (12/07) di dek kapal, sampai akhirnya meraka harus turun guna mengikuti upacara pemberangkatan dan pelepasan. Hadir pada kesempatan itu Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas), Bambang Sudibyo dan Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Laksamana TNI Slamet Soebijanto. Pada kesempatan itu juga baik Mendiknas maupun KSAL kembali mengingatkan akan nilai-nilai kebangsaan dan wawasan nusantara yang menjadi modal dasar dalam membangun karakter diri. Akhirnya dengan diiringi Tari Tepak Lenggang dan ondel-ondel Betawi, para peserta satu persatu masuk ke dalam kapal disambut pelepasan tali tros kapal oleh KSAL.

Pelayaran Kebangsaan VI kali ini, akan mengarungi lautan dengan rute Jakarta-Pulau Bangka-Tanjung Pinang-Pulau Penyengat-Pulau Tolop-Jakarta. berlayar dari tanggal 11-19 Juli 2006. Adapun agenda Pelayaran Kebangsaan meliputi suatu penelitian makalah, diskusi kelompok, role play, pementasan seni budaya, bakti sosial, dialog dengan tokoh masyarakat, mengunjungi tempat-tempat bersejarah, menyusun rekomendasi dan siaran pers.

Prosesi Pelepasan Tali Tros
Empat jam sudah kapal membelah birunya lautan tanpa sedekitpun permasalahan, tiba-tiba ditengah asyiknya para peserta mendapatkan materi tentang kebaharian, seorang anak buah kapal mendatangi panitia mengabarkan bahwa salah satu mesin kapal mengalami kerusakan. Alhasil dengan berat hati, Drs. Abdul Muin Angkat selaku ketua rombongan menyampaikan berita tersebut kepada seluruh peserta. Seluruh peserta dengan sigapnya langsung kembali ke kamar masing-masing guna melakukan pengepakan barang-barang pribadi. Dari wajah-wajah peserta tanpak kekecewaan yang begitu besar. Akan tetapi, permasalahan teknis tidak bisa dianggap remeh. Kapal pun kembali ke dermaga Tanjung Priok. Namun, sekali lagi sepertinya peserta harus kecewa karena kapal tidak bisa sandar di dermaga lantaran semua lokasi sandar dipenuhi kapal barang. Lama kami menanti kepastian akan sandar atau tidak. Pada kesempatan ini banyak diantara peserta memanfaatkan waktu untuk beristirahat ataupun sekedar duduk-duduk di cafe dek.

Melihat situasi yang tidak menentu, aku bersama beberapa rekan memberanikan diri naik ke anjungan kapal. Disana kami bertemu dengan Letkol Laut Suroso Hadi selaku panitia dari TNI AL. Beliau kemudian menjelaskan kondisi kapal, sehingga kesimpulan yang kami terima bahwa untuk bisa melanjutkan perjalanan kami harus menggunakan kapal yang lain. Dan itu baru bisa dilaksanakan pukul 12 malam nanti.

Saya (Prakoso B. Putera) sedang Presentasi Makalah
Guna mengisi waktu dan menghindari jenuh. Panitia persidangan membagi kami kedalam kelompok-kelompok kecil berdasarkan makalah yang kami kirim sebelumnya sesuai dengan isu berbasis tema terpilih. Ada lima kelompok, dimana masing-masing kelompok terbagi atas 26-28 peserta. Tiap kelompok ada yang membahas tentang Solidaritas Sosial dan Social Capital, ada juga berdiskusi tentang Hubungan antar kelompok dan pembaruan, Pendidikan-Teknologi dan Lingkungan, Pertahanan Keamanan, sedangkan aku ditempatkan pada kelompok IV yang akan membahas tentang Kesadaran dan Penegakan Hukum. Ditiap kelompok akan dipandu oleh seorang akademisi yang berkompeten dibidangnya. Bapak Harry Suherman adalah pemandu yang bertanggung jawab atas kelompok kami selama pelayaran ini. Malam itu ada empat mahasiswa terpilih yang akan mempresentasikan makalahnya. Mereka masing-masing Prakoso Bhairawa Putera S (Univ. Sriwijaya) dengan pokok pikiran tentang Menuju Gerakan Anti – Korupsi di Daerah, Yudhi Mustika (USU) dengan pokok pikiran tentang Kesadaran dan Penegakan Hukum, sub pokok Pembinaan Kesadaran Hukum di Desa, Dian Anugrah (Univ. Andalas) dengan pokok pikiran Pornografi dalam Perspektif Sosiologi Hukum, dan Adi Tri Pramono (UGM), dengan pokok pikiran tentang Refleksi Hak Asasi Manusia. Kesempatan pertama presentasi pun diberikan kepada saya. Hampir 2 jam kami berdiskusi dan merumuskan langkah-langkah kongkrit guna menghasilkan solusi terhadap permasalahan, hingga kami tak sadarkan diri bahwa tengah malam nanti kami harus meninggalkan kapal ini.

Hari pertama yang terlalu berat buat seluruh peserta dan panitia akan segera berakhir. Tepat pukul 00.30 dini hari (13/07), kami dipindahkan menuju kapal yang lain. Kapal itu tidak semegah ataupun semewah KRI Tanjung Nusanive, karena kapal yang akan membawa kami berlayar adalah kapal yang digunakan sebagai kapal rumah sakit. Kapal itu bernama KRI Tanjung Dalpele-972 dengan Letkol Laut E. Estu Prabowo sebagai komandannya. Ditengah remang lampu dermaga Tanjung Priok kami satu persatu masuk dan ditempatkan di ruang-ruang kosong yang hanya beralaskan karpet buldru biru tanpa ada tempat tidur, lemari ataupun meja kursi seperti Tanjung Nusanive. Keadaan serupa ternyata menimpa seluruh panitia. Tanpa mengeluh dan tuntutan mata yang ingin segera memejamkan mata, kamipun langsung beristirahat. Padahal kalau mau diperhatikan, kami tidur dengan tas sebagai bantal kepala dan satu ruang berukuran 4 x 6 m berisi sekitar 8 – 15 orang.

Kembali Ke KRI

ADA yang selalu membuat hati ini bahagia setiap melihat menatap laut biru dan tentramnya hati dengan hamparan seluas samudera. Setidaknya itu adalah gambaran ketika bersama-sama mahasiswa terpilih dalam Program Pelayaran Kebangsaan VI di tahun 2006 lalu. Pengalaman selama tidak lebih dari sembilan hari mengarungi lautan, mandi khatulistiwa, makan dan tidur ala tentara di KRI, dan semua cerita seru lainnya. Pernah terlintas dalam diri, kapan ya bisa kembali menikmati suasana semacam itu.

Alhamdulillah, di awal tahun 2011 ini doa itu terjawab. 14-15 Januari kemarin, saya bersama para pemenang lomba Karya Tulis Ilmiah dalam rangka Hari Dharma Samudera tingkat Nasional dan pemenang lomba penulisan artikel di media massa berkesempatan menikmati suasana kembali ke KRI, dan KRI Surabaya-591 adalah kapal yang menjadi perwujudan mimpi itu kembali.

Tidak tanggung-tanggung, kamar persinggahan malam itu diberikan sekelas kamar bagi PAMEN yang luar biasa nyaman. Walau hanya satu malam, tetapi cukup untuk menuntaskan kerinduan akan suasana di tahun 2006 lalu. Bukan hanya itu, selain berkesempatan berfoto bersama dengan Laksamana TNI SUPARNO selaku Kepala Staf Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (Kasal), rombongan juga berkesempatan untuk mengunjungi KRI DEWA RUCI menjadi kebanggan.

Sebelum Upacara, foto dulu di dek KRI Surabaya

Satu Malam mungkin terlalu singkat tetapi cukup untuk menuntaskan memori dan memberikan penyegaran otak setelah menyelesaikan tugas laporan penelitian di akhir tahun lalu, dan ujian semester di kampus. Setidaknya awal tahun ini dibuka dengan prestasi sebagai Pemenang 1 Lomba Karya Tulis Ilmiah "Hari Dharma Samudera" kategori Umum tingkat Nasional. Tahun masih panjang,.masih banyak tugas dan kerja yang menjadi bagian dari perjalanan di tahun ini,..masih banyak target,..Semangat KOKO,..

CERITA KOKO bagian I

K-O-K-O, Anak Melayu Pinggiran

KOKO adalah nama panggilan sejak kecil yang diberikan orang-orang terdekat, terutama keluarga, Mungkin, ada yang akan mengira bahwa ini bukanlah nama, melaikan sebutan atau panggilan. Yup, tak salah, koko bagi sebagian masyarakat Tionghoa di daerahku (Sungailiat) merupakan panggilan untuk seseorang yang usianya lebih tua atau dalam bahasa setempat sama dengan abang atau kakak dalam bahasa Indonesianya.

Koko dilahirkan dengan nama PRAKOSO BHAIRAWA PUTERA. Lahir di sebuah kota kecil, di pulau Belitung yang bernama Tanjung Pandan tertanggal 11 Mei 1984. Sedari kecil sudah terbiasa hidup berpindah-pindah, maklumlah mengikuti sang Ayah yang merupakan pegawai negeri sipil, atau lebih tepatnya guru. Masa kecil banyak dihabiskan di dua kota di pulau Bangka yang sekarang menjadi propinsi Kepulauan Bangka Belitung.

Tak banyak yang bisa diceritakan tentang masa-masa kecil di Tanjungpandan, selain menuliskan kembali apa yang dulu pernah diceritakan oleh kedua orang tua tentang kegilaan koko balita yang selalu senang jika dibawa Bapak berjalan-jalan sore menelusuri aspal disekitar rumah di Tanjungpandang. Tanjungpandan saat itu masih ramai dan hasil tambang timah menjadi komoditi yang begitu berharga di pulau ini. Sementara asyik menggendong koko balita, dibelakang bapak - setiap si bleki anjing penjaga yang menemani. 

Kata bapak, si bleki lah yang ribut-ribut saat koko jatuh dan terguling dari kereta bayi. Bleki menggonggong keras untuk memberi tahukan mamak (panggilan untuk ibu) yang sedang memasak di dapur pada suatu siang. Anjing penjaga itu selalu setia menjaga dan duduk dengan tenang  disebelah kereta bayi koko sembari memperhatikan setiap gerak-gerik koko balita. Namun sayangnya kebersamaan bersama bleki tidak bertahan lama, seiring dengan persiapan bapak untuk pindah tugas di Pangkapinang (Pulau Bangka) - si bleki pun mulai menghilang alias melarikan diri - menjauh dari keluarga. Kepergian bleki membuat bapak, aak Dini, abang Pran, dan aak Ria mencari kesana kemarin, tetapi hasilnya tetap nihil. Hingga, akhirnya hari kepindahan ke Pulau Bangka tiba. Sekeluarga pun menyeberangi Selat Gaspar (selat yang menghubungkan Pulau Belitung dengan Pulau Bangka) dengan Kapal Fery. Kepindahan itu dilepas oleh para tetangga, sanak handai taulan, serta murid-murid dan para guru di tempat bapak mengajar. Selang beberapa jauh kapal meninggalkan pelabuhan, menurut cerita bapak - si bleki nampak di pinggiran dermaga melihat kapal fery yang membawa sekeluarga pindah.

Di kota Pangkal pinang, koko kecil sempat menghabiskan masa kanak-kanak di Taman Kanak-kanak (TK) Adyaksa Pangkal pinang 1989-1990, kemudian melanjutkan pendidikan di Sekolah Dasar (SD) Negeri 52 Pangkalpinang. Sekolah ini jaraknya hanya sekitar 100 meter dari rumah. Namun, selama bersekolah di Pangkalpinang, koko kecil tidak berani tampil, menangis seakan menjadi tradisi setiap kali diminta membaca di depan kelas, atau pun sekadar memimpin doa. Koko kecil memiliki teman baik yang selalu memberikan semangat untuk tidak malu dan menangis, dia teman kecil Koko yang hingga kini masih tetap manis dan lucu, Rosa namanya. Sayangnya, kecerian di Pangkalpinang hanya bertahan sampai kelas tiga saja, karena dipenghujung akhir kenaikan kelas empat keluarga harus pindah ke kota Sungailiat.

Sungailiat,..yah,..kota kecil walaupun dia menjadi ibu kota dari kabupaten Bangka. Kondisi saat pertama masuk desa Air Ruai, dengan kelurahan Air Bakung - Lubuk Kelik, sangat-sangat jauh dari layak. Jalanan berlubang, aspal tak nampak, listrik hanya mengandalkan kebaikan toke listrik yang memberikan layanan penerangan dari pukul 18.00 hingga 24.00. Itupun membayar dengan cukup mahal dan terkadang mati-mati, maklum layanan listrik tersebut bersumber dari diesel yang mengandalkan bahan bakar solar. Bahan bakar jenis yang satu ini pun cukup sulit didapatkan.

Uniknya, meskin tinggal di daerah yang jauh dari hiruk pikuk kota - prestasi belajar justru lebih baik. Nilai-nilai terbakar yang identik dengan warna merah tak terlihat lagi di rapor. Bahkan angka-angka bagus mulai bertaburan,..hehehe,..hehee,.Alhasil juara kelas di kelas empat pun berhasil di raih. Mula-mula peringkat tiga di caturwulan pertama, lalu peringkat dua di cawu kedua, dan menjadi peringkat satu di akhir tahun ajaran. Rahasianya sederhana, karena tidak ada hiburan maka kerjaan hanya belajar, membaca buku di perpustakaan es de yang hanya berisi beberapa buku saja.

Oh ya, SD di tempat tinggal yang baru ini, merupakan SD terbaik dari segi bangunannya, maklum di kota Sungailiat hanya ada dua sekolah yang memiliki gedung berlantai dua,..hehehe,..dan sekolah yang menjadi pelabuhan koko sejak kepindahan adalah salah satunya. Sekolah ini bernama SD Inpres Negeri 434 Sungailiat. Jangan tanyakan berapa jumlah muridnya apalagi angkatan kelulusan dari sekolah ini. Satu kelas hanya berisi tidak lebih dari 25 murid saja, dan koko kecil menjadi angkatan kedua dari sekolah ini...

Selama di eS De 434 ada seorang guru yang hebat. Pak Sopiandi, ia biasa disapa. Olahraga dan Keterampilan Seni adalah mata pelajaran yang menjadi keahlian beliau. Sejak berkenalan dengan pak Sopiandi lah, koko kecil mulai tumbuh percaya diri. Ada banyak keterampilan yang beliau ajarkan, mulai dari membuat taplak meja dari sedotan minuman yang dirangkai dengan benang wol, hingga membuat hiasan dari akar pohon. Di bidang olahraga, beliaulah yang mengajarkan koko kecil cabang atletik, hingga pada akhirnya nanti koko mampu menjadi atlit di bidang ini. Tidak hanya itu, ia juga mampu meletakkan dasar keterampilan membaca puisi dan menulis sastra. Acara malam tujuh belas agustus di panggung desa adalah ajang pertama koko kecil tampil bersama teman-teman di bawah asuhan pak Sopiandi.

Najur dan Mengambil Kelapa Pak Nurdin
Najur atau yang sering disebut dengan teknik menangkap ikan dengan meninggalkan kail yang berisi umpan di sungai atau rawa-rawa untuk keesokan harinya baru dilihat hasilnya, merupakan bagian yang tidak bisa dilupakan dari masa kecil koko. Adalah Sobar, Hendri dan Angga yang menjadi teman bermain dan teman mencari ikan. Selepas pulang sekolah dan selesai mengerjakan tugas-tugas sekolah, koko kecil bersama teman-teman menuju aliran air yang waktu itu setinggi setengah lutut. Bagi anak-anak melayu pinngiran ini, aliran air yang berasal dari bukit Betung itu adalah sungai. Di sanalah mereka menangkap ikan-ikan kecil untuk kemudian menjadi umpan bagi ikan besar, seperti gabus, baung, lele, dan bahkan burung ayam-ayam pun sering tertipu dengan umpan ikan kecil yang dipasang kail.  

Dari keempat anak melayu pinggiran ini, Sobar dan Hendri adalah jagoan soal menangkap ikan dan memasang tajur hingga ke belukar rawa yang berlumpuh. Sedang Koko kecil dan Angga hanya ikut turun di sisi yang tidak terlalu dalam dan berlumpur. Seusai memasang tajur biasanya mandi di kolong merupakan pilihan utama. Kolong bukanlah bagian bawah jembatan seperti di kota Jakarta. Kolong bagi masyarakat Bangka Belitung berarti lubang yang berisi air dari hasil galian penambangan timah yang telah bertahun-tahun lamanya ditinggalkan.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More