Nostalgian Kuliner di Kota Palembang

Kerinduan itu segera menuntun kaki saya menyusuri tempat-tempat yang sedari kuliah dulu menjadi tempat pilihan saya bersama rekan-rekan menghabiskan akhir pekan atau sekadar mentraktir para sahabat. (*Prakoso Bhairawa Putera)

ARAH PERUBAHAN UU IPTEK

Namun, rencana perubahan tidak mencantumkan peneliti dan perekayasa sebagai bagian penting dari sumber daya.Padahal, pelaku aktivitas penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek terletak pada peneliti dan perekayasa.

Makam Kesultanan Palembang Darussalam

Masyarakat Palembang mengenal kompleks pemakaman ini dengan sebutan Kawah Tekurep. Nama tersebut berasal dari bentuk atap bangunan utama pemakaman yang berbentuk cungkup (kubah) melengkung berwarna hijau. (*Prakoso Bhairawa Putera)

Penyerahan Hadiah Pemenang LKTI Seskoal 2012

Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Arief Rudianto, SE., menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba karya tulis ilmiah dengan tema “Menuju Kejayaan NKRI sebagai Negara Kepulauan yang Bervisi Maritim”.

"MABUK OTDA" KETIKA DAERAH BARU (DINILAI) GAGAL

Gegap gempita otonomi ternyata membawa konsekuensi logis dengan perubahan dalam sistem pemerintahan daerah.(Esquire Indonesia, Juni 2013 *Prakoso Bhairawa Putera)

Tampilkan postingan dengan label INSIDE SUMATERA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label INSIDE SUMATERA. Tampilkan semua postingan

Pantai Carocok Painan: Pesona Keindahan Pesisir Selatan

Publikasi  Inside Sumatera edisi Juni 2011


Teks: Prakoso Bhairawa Putera, Foto: Prakoso Bhairawa Putera & Dian Eka

Pagi itu di hari Sabtu minggu ketiga di bulan Oktober 2010, suasana begitu bersahabat. Kota Padang nampak cerah meski rumor tentang gempa masih terus dilemparkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Suasana hati saat itu begitu bahagia, bahkan sejak subuh saya mempersiapakan segala keperluan untuk mendatangi objek wisata yang terkenal dengan keindahannya pasir putih dan airnya yang tenang.
Kliping Inside Sumatera, edisi Jumi 2011

Pantai Carocok di Painan adalah persinggahan yang saya pilih. Destinasi ini menjadi istimewah karena harus menempuh perjalanan sejauh ± 75 Km dari kota Padang dengan waktu tempuh normal sekitar 2 jam. Painan merupakan ibukota dari kabupaten Pesisir Selatan, sekaligus ibukota kecamatan Empat Jurai. Banyak cerita dari blog dan testimonial para sahabat tentang destinasi ini. Hingga tak ada keraguan sedikitpun dalam diri untuk mengeksplorasi keindahan Pantai Carocok, walau harus mengeluarkan kocek dan waktu lebih dibandingkan menjelajah kota Padang sendiri.

Ada beberapa pilihan untuk mencapai destinasi ini, mulai dengan menyewa kendaraan, atau bisa juga dengan menggunakan kendaraan umum. Untuk menggunakan bis umum bisa dengan menumpang bis jurusan pesisir selatan (Painan), lalu turun di gapuran masuk yang merupakan satu-satunya akses ke Pantai Carocok, setelah itu dilanjutkan dengan ojek menuju kawasan destinasi.

Setelah persiapan dianggap cukup, berangkatlah saya bersama sahabat untuk memulai petualangan menuju Painan. Sepanjang perjalanan banyak pemandangan yang bisa dinikmati, mulai dari melihat deretan kapal di Teluk Bayur, lalu hijaunya hamparan persawahan serta wangi buah Durian yang dijajakan di beberapa lokasi di sepanjang perjalanan. Namun, sayangnya hasrat untuk mencoba Durian di ranah Minang harus ditunda mengingat rekan-rekan seperjalanan kali ini tidak terlalu berminat.

Menjelang siang, akhirnya tanpa susah payah tibalah saya di Pantai Carocok Painan. Tidak terlalu sulit untuk menemukan lokasi, karena dua kilometer setelah melewati pasar Painan, maka langsung merapat ke bibir dermaga dan parkiran destinasi.

Benar juga tentang semua testimonial yang diberikan untuk destinasi ini, dua jam lebih perjalanan tertuntaskan dengan keindahan yang tersaji di hadapan. Pantai dengan hamparan pasir putih dan bersih langsung memenuhi kornea mata. Tak beralasan jika seorang teman pernah mengatakan bahwa Pantai Carocok memiliki keindahan seperti pantai Genting Island di Malaysia ketika belum dikelola secara profesional. Tapi jangan tergesa-gesa dulu, ada kewajiban untuk membayar retribusi masuk kawasan dengan Rp. 3.000,- saja per pengunjung. Setelah itu barulah bisa sepuasnya menikmati keindahan destinasi.

Pantai nan besih dan putih menjadikan pantai ini nyaman untuk dikunjungi, terlebih dengan tepi pantai yang landai asyik untuk berenang bersama keluarga, ditambah airnya yang jernih membuat keceriaan bersama. Selain itu, ada sajian yang mempesona dari destinasi ini. Pantai Carocok dilindungi dua pulau kecil, yaitu Pulau Kereta dan Pulau Cingkuak, tidak hanya itu dari kejauhan nampak pula Pulau Semangki.

Pulau Kereta memiliki keunikan tersendiri, karena ia tersambung dengan pulau karang dan ujung Bukit Langkisau. Dahulu pulau karang Kereta hanya bisa dikunjungi jika air sedang surut, tetapi sejak dibangun jembatan pulau ini bisa dikunjungi kapan saja. Menurut cerita tetua dan masyarakat setempat nama Pulau Kereta diambil dari bentuk batu karang yang menyerupai jejak roda sepeda (kereta) yang terdapat di ujung selatan pulau. Namun, kesimpang siuran cerita tentang asal jejak tersebut menjadi tidak pasti, ada yang menyebutnya sebagai jejak sepeda orang Potugis, ada pula yang menyatakan bahwa jejak tersebut merupakan peninggalan tuan-tuan Belanda yang mendarat di pulau Kereta sebelum masuk ke Painan. Bagaimanapun cerita dibalik itu, keindahan dan romantisme pulau ini tetap menjadi daya tarik. Bahkan pemerintah daerah bersama sekelompok masyarakat mulai menambah fasilitas dengan flying fox bagi pengunjung. Tidak tanggung-tanggung, flying fox merentang sepanjang kurang lebih 300 meter dari pulau Kereta ke bagian barat Pantai Carocok menjadikan fasilitas ini wajib dicoba.

Jika, kita memandang ke arah barat maka terdapat sebuah pulau kecil yang konon memiliki sejarah. Pulau tersebut dikenal oleh masyarakat bernama Pulau Cingkuk. Di pulau ini masih dapat dijumpai bekas reruntuhan Benteng Portugis. Berdasarkan cerita, waktu pertama kali Portugis datang di pesisir Pulau Sumatera, Pulau Cingkuklah tempat pendaratan pertamanya. Bukti lain keberadaan tersebut dengan terdapatnya sebuah makam orang berkebangsaan Portugis di pulau tersebut.

Bagi para pengunjung bisa dengan mudah untuk menginjakkan kakinya di pulau Cingkuk dengan hanya membayar Rp. 10.000 saja untuk jasa penyeberangan menuju dan kembali dari Pulau Cingkuk. Tidak perlu khawatir, karena jasa penyeberangan menggunakan perahu bermesin tempel dan senantiasa selalu ada di titik penyeberangan. Setiba di pulau Cingkuk, banyak aktivitas yang bisa dilakukan, mulai dari berenang, menyelam, memancing, bahkan melakukan foto pre wedding pun bisa dilakukan di sana. Hamparan pasir putih dengan airnya yang jernih dan gelombang tenang menjadikan diri betah berlama-lama. Namun, jika perut terasa lapar, kita harus menahannya karena di lokasi ini sulit mencari tempat makan yang nyaman, yang tersedia hanyalah pedagang asongan yang menjajakan mie instan dalam kemasan dan minuman seadanya. Diakhir pekan, ada fasilitas banana boat dan jetski yang bisa digunakan oleh pengunjung dengan membayar sewa mulai dari Rp. 10.000,- per orang.

Nah, tunggu apa lagi, segera tuntaskan penasaran dengan mengunjungi destinasi ini. Sementara itu, karena sudah semakin sore maka saya bersama sahabat harus kembali ke kota Padang. Destinasi kali ini memberikan nuansa berbeda, walaupun minimnya sentuhan membuat Pantai Carocok tetap menjadi lokasi yang begitu asyik dikunjungi untuk melepas kepenatan dari aktivitas rutin. Suasana yang bersahabat dan aroma air laut yang dibawa angin menjadikan Carocok masuk dalam destinasi terbaik saya.***

Museum Kita dalam Optimisme New Brand Visit 2010

Pada 30 Desember 2009 lalu, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mencanangkan tahun 2010 sebagai “Tahun Kunjungan Museum”. Bahkan pada awal Januari 2010 diluncurkan juga Gerakan Nasional Cinta Museum (GNCM) yang akan berlangsung sepanjang 2010-2014. Peluncuran gerakan GNCM diharapkan menjadi langkah strategis untuk mewujudkan revitalisasi museum di Indonesia.

Dengan pencanangan ini, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mengharapkan adanya peningkatan kunjungan wisatawan domestik maupun turis asing ke berbagai museum yang ada di Indonesia. Di sisi lain, pencanangan Tahun Kunjungan Museum dapat pula meningkatkan kualitas pelayanan masyarakat sesuai fungsi museum itu sendiri.

Berbicara museum, ada baiknya kita melihat rujukan pada definisi yang diberikan International Council of Museums. Museum adalah institusi permanen yang melayani kebutuhan publik, dengan sifat terbuka, dengan cara melakukan usaha pengoleksian, mengonservasi, meriset, mengomunikasikan, dan memamerkan benda nyata kepada masyarakat untuk kebutuhan studi, pendidikan, dan kesenangan. Karena itu ia bisa menjadi bahan studi oleh kalangan akademis, dokumentasi kekhasan masyarakat tertentu, ataupun dokumentasi dan pemikiran imajinatif di masa depan.

Kondisi di lapangan menunjukkan, kunjungan masyarakat ke museum yang tersebar di berbagai kota di Indonesia belum menggembirakan, atau hanya 2 persen dari jumlah penduduk per tahun (Kompas, 16 April 2009).

Minimnya kunjungan disebabkan oleh banyak faktor. Thomas Haryonagoro (2009) menjelaskan, ada kesan di masyarakat selama ini yang kurang berpihak terhadap museum, di mana fasilitas ini dianggap tidak atraktif, tidak aspiratif, tidak menghibur, dan pengelolaan dilakukan seadanya. Keberadaan museum belum mampu menunjukkan nilai-nilai koleksi yang tersimpan kepada publik. Kondisi sumber daya manusia di museum pun memprihatinkan. Edukator (programmer) kurang profesional, kehumasan (public relation) lemah, kurang aktif. Pemasaran ataupun informasi tentang museum hanya seadanya dan cenderung stagnan. Kondisi ini diperparah pula dengan penyelenggara pariwisata yang kurang berpihak kepada museum. Museum dinilai belum menjadi destinasi yang potensial. Otonomi daerah pun menghambat konsolidasi pusat-daerah.

Saat ini jumlah museum di Indonesia tercatat 281 unit, dan diperkirakan akan terus bertambah. Museum tersebut antara lain tersebar di Jawa Tengah (41 museum), DKI Jakarta (62 museum), dan DI Yogyakarta (32 museum). Berdasarkan data dari Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata (2009), jumlah kunjungan terhadap 80 museum di seluruh Indonesia setiap tahunnya mengalami penurunan. Pada tahun 2006, jumlah kunjungan ke museum mencapai 4.561.165, lalu turun menjadi 4.204.321 di tahun 2007, bahkan di tahun 2008 turun kembali menjadi 4.174.020 pengunjung. Keadaan semacam ini jelas mengindikasikan bahwa museum kurang diminati sebagai salah satu tujuan wisata.
Museum di Sumatera

Sejak bergulirnya otonomi daerah, kewenangan pengelolaan museum diserahkan ke daerah sesuai PP No. 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Kota.

Palembang adalah salah satu kota di Sumatera yang banyak menyimpan benda-benda sejarah. Beberapa kalangan mengharapkan museum-museum di kota ini perlu diperbaiki dalam sistem pengelolaannya (Antara, 9 Januari 2010). Kurang terawatnya koleksi berharga, mutu fasilitas atau wahana penyimpanan menjadi permasalahan utama. Padahal jika ditelusuri, potensi museum di daerah yang merupakan pusat Kerajaan Sriwijaya itu dapat menjadi daya tarik tersendiri.

Ada beberapa museum terkenal di Palembang, antara lain Museum Balaputra Dewa (dikelola Pemprov/Dinas Pendidikan Sumsel), Museum Sultan Mahmud Badaruddin II (dikelola Pemkot Palembang), Museum Tekstil, Museum Sriwijaya di kompleks Taman Purbakala Kerajaan Sriwijaya (dikelola Dinas Pendidikan Provinsi), dan Monumen Amanat Perjuangan Rakyat. Berbedanya pengelola tiap museum di Palembang juga berdampak pada mekanisme anggaran yang diperoleh atau diperuntukkan bagi perawatan tiap museum.

Dalam sebuah pemberitaan yang diturunkan kantor berita Antara edisi 9 Januari 2010, disebutkan bahwa beberapa museum di Palembang sangat memprihatinkan, seperti Museum Sriwijaya di kompleks TPKS, Museum Tekstil, dan Museum Balaputra Dewa. Museum Sriwijaya sering tidak beroperasi dan tutup. Kondisi sekitarnya nampak kotor serta kumuh. Koleksi Rumah Limas dan bangunan sekitar Museum Balaputra Dewa juga terlihat memerlukan perbaikan karena mulai keropos dimakan usia dan rayap. Kondisi penerangan lampu museum pada malam hari sangat kurang. Beberapa pengunjung museum membandingkannya dengan kondisi Museum Sultan Mahmud Badaruddin di dekat Benteng Kuto Besak (BKB), pinggiran Sungai Musi dan Monpera yang tidak berjauhan lokasinya. Kedua museum itu relatif banyak dikunjungi masyarakat, termasuk turis mancanegara.

Kondisi yang agak berbeda terlihat dari pengelolaan Museum Negeri Sumatera Utara. Sebagaimana hasil wawancara Inside Sumatera dengan Kepala Museum, Sri Hartini, (edisi Desember 2009), terlihat adanya upaya membangkitkan image baru pada museum tersebut. Tetapi “revolusi museum” tidaklah mudah. Pada awal perencanaan, ada kesulitan untuk meyakinkan pihak-pihak terkait, bahwa renovasi ruang dan display akan berakibat positif bagi jumlah kunjungan. Pembangunan museum tidak masuk dalam program utama pemerintah yang masih berkutat pada infrastruktur, pendidikan dan kesehatan. Keberlangsungan operasional Museum Negeri Sumut selama ini hanya karena adanya dana reguler yang memang tidak dialokasikan untuk wawasan permuseuman moderen.

Selain mampu merubah tampilan museum, perubahan persepsi terhadap pengelolaan museum juga menjadi penting. Hal ini juga yang dilakukan Sri Hartini. Paradigma lama yang selama ini menganggap pengelolaan museum dengan semata-mata berorientasi koleksi, selanjutnya perlu dikembangkan pula dengan orientasi publik.

Di Jambi, rendahnya kunjungan wisata ke museum sebagai pusat wisata sejarah lebih banyak dipengaruhi kurangnya kegiatan rekreasi yang digelar di arena museum. Masyarakat Jambi cenderung enggan berkunjung ke museum kalau hanya untuk melihat-lihat benda-benda bersejarah yang dinilai hanya barang kuno (Radesman Saragih: Suara Pembaruan, 7 Nopember 2009). Salah satu terobosan penting yang dilakukan oleh pihak pengelola untuk menstimulus jumlah pengunjung--baik pihak Museum Negeri Jambi dan Museum Perjuangan Rakyat Jambi--adalah terus menggencarkan berbagai kegiatan rekreasi, seni, budaya, dan pendidikan di arena museum. Sasaran utama kegiatan tersebut umumnya anak-anak dan remaja.

Terobosan-terobosan semacam ini menjadi penting dalam menggairahkan kunjungan ke museum. Tetapi selain itu, sesungguhnya kita perlu juga mengadaptasi penggunaan teknologi permuseuman yang lebih maju. Misalnya dengan pemanfaatan visualisasi dan animasi bantuan teknologi informasi. Kecanggihan teknologi informasi dapat memopulerkan dan mengomunikasikan museum di jaringan maya. Melalui jaringan itu, museum dan koleksinya mampu menjadi obyek pengetahuan, data, dan wahana tukar-menukar informasi secara lebih luas.

Konsep museum virtual sendiri telah diperkenalkan sejak 1993 oleh Museum of Computer Art (MOCA) yang pada saat itu dipimpin oleh Don Archer. Museum virtual ini merupakan sebuah lembaga nirlaba di bawah Departemen Pendidikan Negara Bagian New York (AS), dan sejak saat itu muncullah virtual museum lainnya.

Sebenarnya konsep museum virtual cukup sederhana, yaitu sebuah halaman dan bagian dari rumah (web) di internet yang sifatnya online dengan memasukkan segala informasi yang selama ini diperoleh melalui museum dengan berkunjung langsung ke lokasi yang kemudian dipindahkan ke lembaran halaman virtual. Di beberapa negara, museum virtual cukup membantu meningkatkan minat mahasiswa dan pelajar untuk studi koleksi museum tersebut.

Langkah Sukses New Brand 2010

Di tengah-tengah kondisi saat ini, di mana keberpihakan terhadap museum mulai kembali diperlihatkan oleh pemerintah, maka setiap potensi museum di Sumatera perlu segera diinventarisasikan. Hal ini merupakan langkah awal atau bisa juga dikatakan sebagai langkah pertama dalam sukses Tahun Kunjungan Museum 2010.

Pendataan kembali museum-museum dan koleksinya penting untuk melihat sejauh mana karakteristik yang dimiliki oleh daerah tersebut. Pendataan pun berfungsi untuk mengetahui kelengkapan koleksi yang dipunyai sesuai dengan daftar inventarisasi, apakah keadaanya terawat atau mulai mengalami kerusakan. Setelah melakukan inventarisasi, langkah berikutnya adalah “pembangunan kembali” museum dengan paradigma baru. Yang dimaksud pembangunan di sini bukanlah pembangunan gedung baru. Hal ini dapat mencontoh keberhasilan yang dilakukan oleh Museum Negeri Sumatera Utara. Paradigma baru itu adalah orientasi yang lebih besar kepada pelayanan publik, di samping pengoptimalan moderenisasi permuseuman sehingga layak kunjung.

Sedangkan dari sisi marketing, terobosan yang bisa dilakukan museum daerah antara lain, kerja sama dengan pihak-pihak seperti Dinas Pendidikan Nasional, Dinas Pariwisata, dan media massa untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berpusat di museum, mengaktifkan kembali study tour ke museum-museum sebagai wisata edukasi, pemasaran museum melalui blog atau web, mempersiapkan diri secara matang bila ikut pameran, dan seterusnya. Seluruh kegiatan itu harus mampu mengubah citra museum yang tua, kuno, kumuh dan tidak cozy.

Tentu ada banyak lagi terobosan-terobosan yang bisa dilakukan oleh pihak pengelola museum. Mengingat program Tahun Kunjungan Museum 2010 sebagai “jualan” pokok pariwisata Indonesia, maka dukungan dari pemerintah daerah menjadi penting. Semoga tahun 2010 ini menjadi awal yang baik untuk mengembalikan museum kita sebagai khasanah yang bernilai edukasi yang bermanfaat untuk pemartabatan pengetahuan dan jati diri anak bangsa di tengah pengaruh global

Oleh: Prakoso Bhairawa Putera, penulis adalah Peneliti Muda Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Jakarta

KAWAH TEKUREP: MAKAM KESULTANAN PALEMBANG DARUSSALAM

Palembang bukan hanya dikenal dengan sejarah panjang Kerajaan Sriwijaya yang berjaya di Nusantara pada abad VI hingga abad XIII saja, namun kota yang dialiri Sungai Musi ini memiliki cerita lain tentang Kesultanan Palembang Darussalam. Kesultanan ini berdiri pada tahun 1675 sebagai sebuah kerajaan Islam yang dipimpin oleh Sultan Abdurrahman (1659-1706) di awal pemerintahannya. Akan tetapi kekuasaan kolonial Belanda menghapus kesultanan ini di periode 7 Oktober 1823.

Kompleks Makam Kesultanan Palembang Darussalam

Keberadaan kesultanan ini masih tetap dirasakan hingga kini. Kompleks pemakaman kesultanan menjadi bukti bahwa nilai-nilai Islam begitu kuat di masa Kesultanan Palembang Darussalam.

Tidak sulit untuk menemukan kompleks pemakaman ini, walaupun letaknya terlindungi kompleks pergudangan peti kemas Pelabuhan Bom Baru di kawasan Kelurahan III Ilir, Kecamatan Ilir Timur II. Dari pinggiran jalan raya, kita harus berjalan sekitar 200 meter untuk dapat melihat langsung kompleks pemakaman ini. Jika lebih memilih dari tepian Sungai Musi, maka kompleks ini berjarak tak lebih dari 100 meter.

Makam selalu dirawat dan jaga kebersihannya

Masyarakat Palembang mengenal kompleks pemakaman ini dengan sebutan Kawah Tekurep. Nama tersebut berasal dari bentuk atap bangunan utama pemakaman yang berbentuk cungkup (kubah) melengkung berwarna hijau. Jika diperhatikan dengan seksama, maka bentuknya menyerupai wajan yang terbalik atau dalam bahasa lokalnya kawah tekurep. Berdasarkan informasi dari kuncen (juru kunci) makam, pemakaman ini dibangun tahun 1728 atas perintah Sultan Mahmud Badaruddin I Jaya Wikramo. Kemudian dilanjutkan pembangunan Gubah Tengah di areal pemakaman oleh Sultan Ahmad Najamuddin I Adi Kesumo. Keunikan arsitektur bangunan makam menjadi keindahan yang berhasil menggabungkan gaya arsitektur Melayu, India, dan China.

Untuk bisa memasuki kompleks pemakaman, kita harus melewati gerbang utama yang letaknya di sisi selatan atau bagian yang berhadapan langsung dengan Sungai Musi. Setelah melewati gapura, maka di depan bangunan makam kita bisa melihat silsilah keluarga Kesultanan Palembang Darussalam yang terukir di batu marmer.

Silsilah Makan Kesultanan Palembang Darusslam di Lingkungan Kawah Tekurep
Di dalam kompleks pemakaman terdapat empat cungkup. Tiga cungkup diperuntukkan bagi makam para sultan dan satu cungkup untuk putra-putri sultan, para pejabat dan hulubalang. Di cungkup pertama terdapat makam Sultan Mahmud Badaruddin I (yang wafat di tahun 1756), Ratu Sepuh, istri pertama yang berasal dari Jawa Tengah. Kemudian ada makam Ratu Gading, istri kedua yang berasal dari Kelantan (Malaysia), ada juga makam Mas Ayu Ratu (Liem Ban Nio), istri ketiga yang berasal dari China-Melayu. Selain itu ada juga makam Nyimas Naimah, istri keempat yang berasal dari I Ilir (kini Guguk Jero Pager Kota Palembang Lamo), dan makam Imam Sayyid Idrus Al-Idrus dari Yaman yang tak lain guru dari Sultan.

Sisi Lain di Luar Bangunan Utama
Cungkup kedua, kita dapat melihat makam Pangeran Ratu Kamuk (wafat tahun 1755), di sebelahnya terdapat makam Ratu Mudo (istri dari Pangeran Kamuk), dan makam Sayyid Yusuf Al-Angkawi (imam sultan). Sementara itu, makam Sultan Ahmad Najamuddin (wafat tahun 1776), makam Masayu Dalem (istri Najamuddin), dan makam Sayyid Abdur Rahman Maulana Tugaah (Imam Sultan dari Yaman), berada di cungkup ketiga. Adapun cungkup keempat terdapat makam Sultan Muhammadi Bahauddin (wafat tahun 1803), makam Ratu Agung (istri Bahauddin), makam Datuk Murni Hadad (imam sultan dari Arab Saudi), dan beberapa makam lain yang tidak terbaca namanya. Selain keempat cungkup tersebut, masih ada beberapa makam seperti makam Susuhunan Husin Diauddin, yang wafat dalam pembuangan Belanda di Jakarta, 4 Juli 1826. Semula, Husin Diauddin dimakamkan di Krukut tetapi kemudian dipindahkan ke Palembang.

Kompleks pemakaman ini ternyata masih tetap terawat dan ramai dikunjungi. Biasanya mereka yang berkunjung adalah wisatawan atau peziarah yang ingin melihat langsung kejayaan Kesultanan Palembang Darussalam dari peninggalan makam-makam para tokoh penting di kesultanan ini.(Prakoso Bhairawa Putera)

NOSTALGIA KULINER DI KOTA PALEMBANG


Sudah lama rasanya tidak mencicipi kuliner khas Kota Palembang. Sesaat sebelum take off di Bandara Soekarno Hatta Jakarta awal Mei 2010 lalu, saya sudah tak sabar membayangkan makanan-makanan khas yang ingin saya cicipi setelah cukup lama meninggalkan Bumi Sriwijaya itu.

Maka sejak mendaratkan kaki di Bandar Udara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang, kerinduan itu segera menuntun kaki saya menyusuri tempat-tempat yang sedari kuliah dulu menjadi tempat pilihan saya bersama rekan-rekan menghabiskan akhir pekan atau sekadar mentraktir para sahabat kalau sedang dapat rezeki lebih.

Nasi Goreng Bang Ali
Berhubung jam di tangan saya sudah menunjukkan pukul 21.35 WIB, maka saya meminta sopir taksi langsung meluncur ke Ilir Barat Permai. Sebuah hotel berbintang yang cukup nyaman dengan harga relatif terjangkau menjadi pilihan saya. Setelah membersihkan diri, maka saatnya mencari makan malam.

Sisa-sisa memori menuntun kaki saya menyusuri Jalan Mayor Ruslan, mendekati pusat perbelanjaan Internasional Plaza. Di sana akhirnya saya bertemu juga dengan “Nasi Goreng Bang Ali”. Nasi Goreng Bang Ali terkenal dengan ayam kampungnya yang disajikan sebagai pelengkap nasi goreng. Tempat makan ini buka mulai pukul enam sore hingga pukul tiga malam. Namun sayang, kali ini saya kurang beruntung karena ayam kampung yang terkenal gurih dan lezat itu sudah habis. Saya hanya kebagian hati ayamnya saja. Tak apalah, untuk hidangan malam sebelum tidur.

Tak hanya nasi goreng hati ayam kampung saja yang saya pesan, segelas es “Jeruk Kunci” menjadi pilihan saya. Soal harga jangan ditanya. Untuk semua makanan dan minuman yang saya pesan, saya hanya membayar enam belas ribuan saja.

Rumah Makan Ibat Daun

Siang keesokan harinya, giliran Jalan Soekarno-Hatta yang saya susuri. Setelah berkeliling melihat situs-situs purbakala, inilah saat yang tepat menyantap hidangan khas berikut yang sudah saya agendakan dalam hati. Aha, selamat datang ke “Rumah Makan Ibat Daun”!

Rumah Makan Ibat Daun memang sangat cocok untuk persinggahan makan siang. Lokasinya sekitar seratus meter dari persimpangan Bukit Besar. Suasana nan sejuk mirip perkampungan dengan kolam-kolam ikan, pepohonan, dan balai-balai lesehan membuat pengunjung betah berlama-lama. Lokasinya yang berada di pinggir Kota Palembang sangat tepat untuk pilihan makan bersama keluarga ataupun rekan kerja.

“Ibat Daun” sendiri diambil dari bahasa daerah Basemah, yang artinya “terbungkus daun”. Nasi yang dihidangkan di sini memang dalam kondisi terbungkus daun pisang. Singkat cerita, menu serba Basemah pun disajikan di sini, mulai dari berbagai jenis pindang, ikan goreng seluang, hingga sambal khas Basemah.

Hidangan kali ini benar-benar istimewa. Pilihan saya tertuju pada pindang ikan patin dengan ikan goreng seluang. Sedangkan rekan saya lebih memilih pindang tulang yang terkenal enaknya. Benar-benar menggugah selera! Soal harga, dijamin masih tetap terjangkau dibandingkan rumah makan dengan menu serupa di pusat Kota Palembang.

Martabak HAR

Nostalgia kuliner saya di Palembang akan diakhiri dengan menyantap “Martabak HAR”. Kali ini, saya berkesempatan mendatangi restoran pusat Martabak HAR yang telah memiliki banyak cabang di wilayah Palembang maupun luar kota. Lokasinya di seberang Masjid Agung Palembang yang sangat strategis karena memudahkan setiap pengunjung untuk mendatanginya. “HAR” yang menjadi kata di belakang martabak ini merupakan kependekan dari Haji Abdul Rozak yang tak lain adalah pemilik awal dari usaha ini.

Namun, jika Anda berkunjung ke Palembang, sebaiknya berhati-hatilah jika menemukan restoran Martabak HAR, karena banyak martabak yang sejenis ini dipalsukan oleh pihak-pihak lain. Untuk mencirikan restoran yang kita datangi sebagai cabang asli, maka di setiap kedai ataupun restoran Martabak HAR, perhatikanlah foto Haji Abdul Rozak. Bila foto Pak Haji terpampang, maka benarlah barang itu.

Empek-empek

Nah, berkeliling dan menikmati kuliner khas Kota Palembang sudah dituntaskan. Kini saatnya saya kembali ke Jakarta. Tetapi, eit, tunggu dulu! Sebelum take off, saya wajib membeli empek-empek palembang lebih dulu. Kalau tidak, bisa-bisa nanti kena marah handai tolan di Jakarta!

Berbicara Palembang, apalagi soal kulinernya, maka kita diwajibkan mendiskusikan empek-empek terlebih dahulu. Makanan yang satu ini, selain khas, juga sudah menjadi simbol Palembang. Anda tentu sudah pernah mendengar sebutan Palembang sebagai kota empek-empek. Karena itu, makanan gurih ini pun selalu dijadikan buah tangan turis jika mereka menyinggahi kota yang dibelah Sungai Musi ini.

“Kebudayaan empek-empek” terbentuk karena adanya keterikatan warga Palembang dengan Sungai Musi. Sungai yang mengalir sejauh 750 km dan merupakan sungai terpanjang di Pulau Sumatera ini menjadi habitat terbaik bagi kawanan ikan belida (Hotopetrus chitala, H.B). Masyarakat setempat mengenalnya dengan iwak belido. Ikan belida sebagai salah satu sumber makanan di Palembang telah memunculkan tradisi pembuatan makanan berupa empek-empek sekaligus menjadi kearifan lokal yang khas dibanding daerah lain. Jenis ikan ini merupakan bahan baku pembuatan empek-empek berkualitas paling tinggi. Sayangnya, populasi belida tinggal 10% saja yang hidup secara bebas di perairan Sungai Musi.

Di Palembang, penjual empek-empek ditemukan hampir di setiap sudut kota. Pada pagi hari, para penjual sarapan juga menyediakan makanan ini sebagai pembuka kegiatan. Ah, rasanya saya tak perlu lebih banyak menceritakan empek-empek karena toh hampir seluruh orang Indonesia sudah mengenal makanan ini.

Ayo, tunggu apa lagi, kunjungi Palembang!

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More