Nostalgian Kuliner di Kota Palembang

Kerinduan itu segera menuntun kaki saya menyusuri tempat-tempat yang sedari kuliah dulu menjadi tempat pilihan saya bersama rekan-rekan menghabiskan akhir pekan atau sekadar mentraktir para sahabat. (*Prakoso Bhairawa Putera)

ARAH PERUBAHAN UU IPTEK

Namun, rencana perubahan tidak mencantumkan peneliti dan perekayasa sebagai bagian penting dari sumber daya.Padahal, pelaku aktivitas penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek terletak pada peneliti dan perekayasa.

Makam Kesultanan Palembang Darussalam

Masyarakat Palembang mengenal kompleks pemakaman ini dengan sebutan Kawah Tekurep. Nama tersebut berasal dari bentuk atap bangunan utama pemakaman yang berbentuk cungkup (kubah) melengkung berwarna hijau. (*Prakoso Bhairawa Putera)

Penyerahan Hadiah Pemenang LKTI Seskoal 2012

Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Arief Rudianto, SE., menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba karya tulis ilmiah dengan tema “Menuju Kejayaan NKRI sebagai Negara Kepulauan yang Bervisi Maritim”.

"MABUK OTDA" KETIKA DAERAH BARU (DINILAI) GAGAL

Gegap gempita otonomi ternyata membawa konsekuensi logis dengan perubahan dalam sistem pemerintahan daerah.(Esquire Indonesia, Juni 2013 *Prakoso Bhairawa Putera)

Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PUISI. Tampilkan semua postingan

Puisi Koko P Bhairawa: edisi Amelya Gustina


Semimpi Hari

- anugerah terindah Amelya Gustina

aku telah begitu dekat dengan
mimpi para pendongeng
entah akan lama atau semimpi saja
langit mampu memberi sajak tawa
ya, sepertiga mimpi aku tertidur                                                                              
aku lelap pada eksotik lindupmu

guritan langit masih menyimpan jingga
usia hari masih terlalu pagi
seharusnya sorak sorai jago
tak henti memanggil
indahnya pijar bola api itu
namun sepertinya aku harus
akhiri mimpi ini

USU, 30/05/2006 


Delapan Agustus Dua Ribu Enam
: kado buat A G

 memang tlah kuucapkan ikrar diantara
bising hari – riuh knalpot 
wewangian pecel ayam dan
engkau diam memandangi
batang hidungku yang begitu jelas
lalu tertawa kecil sembunyikan hati

selalu saja kau lebarkan senyum
entah kata itu terlalu
lucu bagi logika pikirmu
atau acap kali kau
mendengar rangkai huruf yang sama
atau barangkali aku tak terlalu pantas ucapkan
tuk perempuan yang berdiri ditiap mimpi hingga
untuk temukan kata cinta dari bibirnya
lelaki ini harus berenang dilautan
awan lalu memahat bintang jadi
narasi hari
: bicaraku hanya lingkar di jari manismu


Pada Penggalan Masa
: episode pijar hati

pijar lampu berkejaran menerobos retina
tapi tak kubiarkan nyala itu
menyilaukan ruang di bola mata
karena seisinya tlah sarat akan warna
yang kutemukan kemarin
walau pijar itu tak henti menari
meliuk-liukan kerlipannya padaku
sssttt...sesaat kedua kelopak menutup
kutemukan cahaya dari bisa dirimu
bertengger disana
menatap dengan lekat diri dengan
seulas bibir merah dan pipi cabi
MEL, kuingin tak sekedar bias
yang tertambat di pelataran mata
sekarang

Tanjung Priok, 11/07/06 

Sajak Untuk Calon Istri
-          Untuk AG

tak kan cukup air yang kujatuhkan
ketika rasa menggrogoti batin
kemarin kulihat tuhan tersenyum padaku pada kita
sebab sujud kita bertemu
tapi kemudian tuhan murka
ketika kutak menjagamu
entah cukup sujudku setelah ini
entah mampu hari besok jadi taruhan
karena ia tak pernah kenal kata itu

4 PUISI KOKO P BHAIRAWA DI APSAS

Pada Penggalan Masa
: episode malam penuntasan

kujaga tiap desahmu dalam hangat nyiur
kunikahi kau dalam deru gelombang
malam itu, pada ranum bibirmu
tak kubiarkan kering sedikit pun
dinda, kita telah melepas keringat
dalam sesak asin Carita
membagi satu-dua peluh pada igauannya

Carita-Jakarta, 07-08/02/2006




Elegi Bunga Terompet

embun telah dijatuhkan
bersama sorak-sorai para jago
tunas-tunas telah tumbuh
jadi sebentuk energi bagi jiwa lelah
ada yang selalu tertunduk
dengan kuncup mencium bumi
disemerbak aroma teh

usapan awan putih membelai
keabadian edelwise pada tubuh dempo
lagi-lagi ada yang tertunduk
dalam senandung burung gereja
bersama telapak terus membelah
pada rimbun teh tubruk yang kuminum
dia terlalu suci bagi alam

Pagar Alam, 18/01/2006



Pada Penggalan Masa
: episode malam 3 Januari 2006
-unt. Wa Ode Wulan Ratna-

telah kuikrarkan pada malam
bersama pahatan huruf
yang kutancapkan di atap langit
di mana rasa, sejak dulu kurindu
bulan memang berpendar
namun ia tak selalu datang di malamku
begitu juga pada malammu (barangkali)
tapi kini ia akan selalu datang
di tiap kibasan kelopak
dan di hangat air mata

anugerah telah mendewasakan setiap jiwa
menjaga keseimbangan
hingga ke relung paling dalam
indah ketika ia menjadi milik
suram ketika terlihat hanya sebentuk bayang
gelap ketika mimpi itu lenyap
meski pagi datang dengan kecupan mesra

di tiap jiwa ada yin-yang
yang selalu menjadi hantu menakutkan
sedang yin hadir memanjakan ruh
kini telah tiba saatnya
menakutkan yang dengan ketakutannya

lan, aku hadir di antara keduanya



Penuntasan

tak kubiarkan kau patahkan tiang-tiang di jiwa
meski jantung terus membiarkan kau berdiri tegak
tak kubiarkan kau remukkan daging-daging pada kulit
meski nadi terus berdenyut di tiap detik
tak kubiarkan kau nyalakan kornea di gelap hari
meski syaraf terpaksa mengakhiri rehatnya
rasa memang telah menyumbat darah ke otak kecil
telah membulatkan mata di tiap malam
menyayat nyeri bagi rongga hidup
tapi itu dulu, dinda

lan, memang ada yang harus dituntaskan

Puisi Koko P Bhairawa di Seputar Indonesia Minggu, 7 Februari 2010

Berikut ini 3 karya puisi saya yang dimuat di halaman budaya Minggu, 7 Februari 2010 Seputar Indonesia:

ADALAH KAU

jadikan lelaki kecil itu
kokoh ditepian kolam coklat
pada senja yang basah
pada gedunggedung yang pucat
setelah kejatuhan hujan

jadikan lelaki kecil itu
nikmati dingin pada detikdetik berlalu
hampa...
hampa...

jadikan lelaki kecil itu
menelan ludah tatkala sayup magrib berlalu
bersama tegak jiwa di aspal gatot subroto

jadikan lelaki kecil itu
kehilangan baju kewarasan, dan
celana bawah sadar
lalu biarkan kepolosan jadi
tontonan periperi

adalah kau jawaban atas semua

rw mangun, 02-02-2009



JANGAN PERNAH BOSAN

pagi tadi sebelum tegak
sepi mencumbui bumi yang kedinginan
dedaunan tersenyum dalam birokrasi fajar
melukiskan embun lewat proyeksi cinta
pada harmoni tanah merdeka
setetes peluh begitu suci untuk perjalanan pagi

di timur matahari terdiam
menikmati teriakan anak penghuni bangsa
dalam kour pengiring yang acap kali
berbuah gema pada dada
di tiap tiang kehormatan merah putih menari-nari
di atas dua ratus tiga puluh juta kepala
mencabik cakrawala biru yang mulai pudar
digerogoti asap hitam, memotong-motong
irama angin yang senantiasa merayu
generasi bangsa dengan syair impor

“Hormatku Merah Putih !”
jangan bosan berdiri di tiang kehormatan
jangan ragu mematri impian cucu adam hawa
untuk jadi pemimpin di negri ini
pada rumput, gedung tinggi, pohon hijau,
angin, tanah dan udara
telah sejak lama bersatu rasa hujan-panas
bersaksi untuk kegagahanmu

Merah putih jangan pernah bosan



DI PAGI MINGGU,
TIGA PULUH MENIT SEBELUM TAKE OFF
: unt. Alifia Narasita Sibly

jika aku kembali bukan karena cinta,
pasti ada dari organ ini tak rela biarkan
kau sendiri meratapi ringkik batang hari
dengan mata terbuka mencari hulu
dan menelusuri jauh hingga hilir sungai
– (lagi) kau senyap menatap

jika aku kembali bukan untuk cinta,
tetap ingin kupastikan
kau tak mengulang kisah pelarian kemarin
diantara peluh sore dan aroma bensin
kutemukan cemas meradang di wajah
– (lagi) kau senyap memandang

jika aku kembali,
kembali 'ku tidak juga demi cinta
tetapi dongeng yang pernah kau rentas
dari mimpi sepotong malam
di kaki gunung dataran tanah jawa
lebih merangsangku mengobrak abrik
wacana kegelisahanmu
“kau dan aku terlahir dari proses panjang
bernama persetubuhan, tapi (tetap) beda dan
se-beda-nya tak ada alasan diam
menunggu dijemput kisah”

jika aku kembali,
adalah cinta bukan jawaban
serupa pagi kehilangan embun
lantaran tak ada rekam jejak malam (berdua)
“disini setumpuk nanas goreng
kita kunyah pada bibir (sama)”

BU. Sultan Thaha, 13 Juli 2008

Puisi Koko P. Bhairawa (23/06/2006)


Kontemplasi 11 Mei

kembali kulepas satu umur hidup
kini ruhku seribu centi lebih dekat
tafsir angin dan gelombang
membuat jiwa kehilangan banyak masa
pada bibir Tanjung kulafazkan sajak zikir
desahku, riakmu, detakku, ayatmu
berintegral dalam langit pagi
kucicip embun diantara ilalang
kukecup hangat tanah berpasir
aku kehilangan banyak masa untukMu


Sepotong Bulan di Musi

ada yang menari di riak sungai
cahayanya jatuh mencumbui tiap sudut
dari seberang ilir hingga seberang ulu
tapi hanya sepotong tampak olehku
dan pada ruang di bola mata
tak ada lagi motor tempel
yang selalu menjilati musi seperti siang tadi
bahkan rumah rakit di seberang
tempat bengkel karoseri taxi air
hanya terlihat sebentuk cahaya

malam kembali memainkan peran
menjadi saksi bagi rutinitas anak manusia
dari pelataran benteng malam memberikan
sepotong bulan dan sejuta bintang di mataku
barangkali ia paham arti perjuagan hingga
tak rela membiarkan hati tersiksa demi cinta
membiarkan perasaan berbohong demi kata sayang
:gelap tak selalu hitam bagi diri

di antara kesendirian malam
ada syair luka yang dikirimkan Musi
sampah telah membuatnya malu untuk bercermin
Musi, kita berdua punya duka yang sama
walau dengan cerita yang berbeda
tapi kau lebih baik
kau jujur akan deritamu
sedang aku bersembunyi di tawa sepanjang tahun

tapi semuanya baru saja ditenggelamkan
di dasarmu dan arus takkan sanggup
membawanya ke seratus anak-anakmu
karena beban yang kulepaskan begitu berat
hingga asa putih dapat terbang ke bulan
untuk menjemput sepaket impian
agar besok di pagi ada kehangatan
dari mimpi yang terwujud
ada lukisan senyum di wajah
dan yang pasti akan ada narasi baru
dengan dirimu di sisiku

Palembang, 31/12/2004



Sketsa Asa

dahulu,
ada sebuah harmoni yang mampu
meruntuhkan tiang di rumah ke sembilan
menenggelamkan susunan batu suci
tempat bersemayamnya kepercayaan pada cinta
yang selama dimensi waktu telah tumbuh
jadi sebentuk bayangan di tiap kesendirian

kuor dari harmoni atas nama kegelapan
membuka pertemuan lubang hitam dan neraka
di rumah; dinding – pintu – bahkan bantal kesayangan
melempar kutukan yang semakin melebarkan luka
menjauhkan mimpi dari rongga malam
bersama jiwa tersudut sepi
menggigilku bersama detik

semalam ada lampu kota yang merayu bulan purnama
angin dan kunang-kunang menari-nari
di atas gedung tinggi menggoyang dan mendekap diri

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More