Nostalgian Kuliner di Kota Palembang

Kerinduan itu segera menuntun kaki saya menyusuri tempat-tempat yang sedari kuliah dulu menjadi tempat pilihan saya bersama rekan-rekan menghabiskan akhir pekan atau sekadar mentraktir para sahabat. (*Prakoso Bhairawa Putera)

ARAH PERUBAHAN UU IPTEK

Namun, rencana perubahan tidak mencantumkan peneliti dan perekayasa sebagai bagian penting dari sumber daya.Padahal, pelaku aktivitas penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek terletak pada peneliti dan perekayasa.

Makam Kesultanan Palembang Darussalam

Masyarakat Palembang mengenal kompleks pemakaman ini dengan sebutan Kawah Tekurep. Nama tersebut berasal dari bentuk atap bangunan utama pemakaman yang berbentuk cungkup (kubah) melengkung berwarna hijau. (*Prakoso Bhairawa Putera)

Penyerahan Hadiah Pemenang LKTI Seskoal 2012

Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Arief Rudianto, SE., menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba karya tulis ilmiah dengan tema “Menuju Kejayaan NKRI sebagai Negara Kepulauan yang Bervisi Maritim”.

"MABUK OTDA" KETIKA DAERAH BARU (DINILAI) GAGAL

Gegap gempita otonomi ternyata membawa konsekuensi logis dengan perubahan dalam sistem pemerintahan daerah.(Esquire Indonesia, Juni 2013 *Prakoso Bhairawa Putera)

Tampilkan postingan dengan label BUKU ILMIAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BUKU ILMIAH. Tampilkan semua postingan

Buku Sistem Inovasi Daerah: Inovasi Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal

Buku SIDa, Arifin, dkk (2013)
Buku ini merupakan hasil penulisan kembali dari penelitian mengenai Penguatan Inovasi Teknologi dalam Rangka Mendukung Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL). Penguatan inovasi yang berorientasi pada spesialisasi kewilayahan menjadi kunci keberhasilan pengembangan riset dan aplikasinya. Seiring dengan itu, pergeseran paradigma pembangunan dari yang bersifat sentralistik top-down menjadi desentralisasi bottom-up telah menempatkan daerah sebagai salah satu ujung tombak pembangunan nasional. Untuk itu perlu dipetakan kegiatan inovasi teknologi yang dilakukan oleh UKM, khususnya industri makanan dan minuman dalam rangka mendukung PEL. Lokus kegiatan ini adalah Kabupaten Trenggalek, Kabupaten Malang, Kabupaten Pasuruan, dan Kota Salatiga. Keempat daerah tersebut dipilih karena memiliki potensi daerah yang dapat dikembangkan untuk mendukung ekonomi lokal dari hasil inovasi teknologi. Fokus kegiatannya meliputi a) Sentra Pengembangan Agribisnis Terpadu (SPAT), industri berbahan baku ketela; b) Agaricus Sido Makmur Sentosa (ASIMAS), industri berbahan baku jamur; c) Bangkit Cassava Mandiri (BCM), industri berbahan baku singkong; dan d) UKM Sehati, industri berbahan baku kedelai.

Informasi Buku:
Judul :
Sistem Inovasi Daerah: Inovasi Teknologi dalam Pengembangan Ekonomi Lokal

Penulis: 
Mohamad Arifin, Dudi Hidayat, Setiowiji Handoyo, Sri Mulatsih, Prakoso Bhairawa Putera, Dini Oktaviyanti, dan Galuh Syahbana Indraprahasta

Copyright © 2013 IPB Press, Cetakan Pertama : April 2013

Lampiran Buku SIDa 2013

Sains & Teknologi: Berbagai Ide Untuk Menjawab Tantangan dan Kebutuhan Vol. 4

Perubahan keempat pada UUD 1945 Pasal 31(5) mengamanatkan “Pemerintah Memajukan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi dengan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan persatuan bangsa untuk memajukan peradaban serta kesejahteraan umat manusia.” Amanah ini mengisyaratkan bahwa iptek merupakan “engine of tomorow” bagi pencapaian kemajuan bangsa dan kesejahteraan rakyat.

Dengan tercantumnya amanah perubahan di DUD 1945 tersebut merupakan keinginan bangsa Indonesia untuk tetap sejajar dan mempunyai nilai daya saing diantara Negara-negara lain khususnya Negara maju yang telah menguasai Teknologi. Saat ini, dunia memasuki sebuah era masyarakat berbasis pengetahuan, dimana pembangunan nasional ditentukan oleh kepemilikan pengetahuan dan kemampuan sumberdaya manusianya.

Seperti yang disampaikan oleh Bapak Presiden RI bahwa visi pembangunan ekonomi yang berlandaskan pada pembangunan ekonomi, yang berlandaskan pada keunggulan daya saing, kekayaan sumber daya alam, sumber daya manusia dan budaya bangsa yang di kelola melalui penguasaan iptek. Karena itu, pembangunan iptek perlu diarahkan agar marnpu memberikan kontribusi nyata bagi pemenuhan kebutuhan masyarakat dan solusi bagi permasalahan yang dihadapi oleh Bangsa.Maka deskripsi lptek sebagai kekuatan utarna kesejahteraan dimaksudkan dengan kemajuan Iptek nasional yang dapat meningkatkan produktifitas dan daya saing, membuka lapangan pekeIjaan barn, meningkatkan profesionalisme, dan meningkatkan pendapatan individu dan masyarakat yang pada akhimya dapat memajukan perekonomian bangsa.

Kumpulan tulisan dalam buku “Sains dan Teknologi 4″ ini hadir sebagai upaya dati para kontributomya dalam menyampaikan pandangannya secara kritis untuk menjawab tantangan dan kebutuhan sains dan teknologi. Selain itu kumpulan tulisan ini akan memberikan pemaharnan yang tepat tentang terminologi dan konsepsi pokok pada pemecahan permasalahan ditengah masyarakat didalam mengadopsi hasil inovasi Iptek anak bangsa sendiri. Buku ini merupakan langkah awal yang strategis Untuk digunakan sebagai acuan dalam memotivasi dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi bagi masyarakat secara umum.

Seperti buku-buku sebelumnya, isi yang ditarnpilkan tetap merupakan kompilasi dari beragam artikel-artikel yang ditulis para komunitas iptek di lingkungan Kementerian Riset dan Teknologi serta Lembaga Pemerintah Non Kementerian dan para komunitas iptek dari bebagai kalangan untuk menyampaikan gagasan atau ide-idenya di berbagai media masa selama 12 bulan dalam kurun waktu 2010 -2011.

lsi buku ini dibagi atas beberapa Bab yang masing-masing Bab berisi pembahasan pada 7 Bidang Fokus Teknologi, seperti Bidang Pangan dan Pertanian; Bidang Energi Informasi dan Komunikasi; Bidang Teknologi Transportasi; Bidang Pertahanan dan Keamanan; dan bidang lainnya yang terkait seperti Inovasi dan Ekonomi; Pajak dan Legislasi; Sumberdaya Manusia dan Pendidikan serta Kebencanaan, didalam pengembangan teknologi nasional dikaitkan kepada isu tentang problematik ditengah masyarakat.

Akhirnya, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan kepada para penulis, kontributor serta seluruh tim yang ikut terlibat dalam perumusan dan penulisan buku ini. Semoga buku ini dapat memberikan manfaat dalam memahami isu dan perkembangan penguasaan sains dan teknologi di Indonesia.

Review oleh http://www.pdii.lipi.go.id/read/2012/04/30/sains-teknologi-berbagai-ide-untuk-menjawab-tantangan-dan-kebutuhan-vol-4.html

Dalam buku ini terdapat terdapat empat tulisan saya, yaitu:
Potret Sisnas P3  IPTEK  296
Paradigma Barn Tata Kelola Destinasi  420

BUKU: Analisis Keterkaitan Antar-Akademisi, Industri, dan Pemerintah: Suatu Tinjauan Teoretis dan Praktis dari Perspektif Teori Kompleksitas

Analisis Keterkaitan Antar ABG - Pappiptek LIPI, 2011

Judul Buku: 
Analisis Keterkaitan Antar-Akademisi, Industri, dan Pemerintah: Suatu Tinjauan Teoretis dan Praktis dari Perspektif Teori Kompleksitas 

Penulis : 
Dudi Hidayat, Sri Mulatsih, Prakoso Bhairawa Putera, Muhammad Zulhamdani, dan Dini Oktaviyanti. 

Penerbit : 
LIPI Press, 2011, ISBN 978-979-799-681-9 

Catatan Penutup:

CAS ini adalah sebuah jejaring yang terjadi antar agent, dimana didalamnya terjadi interaksi dan agent ini berperan sebagai sel syaraf dalam sebuah CAS. Dari interaksi yang terjadi antar agent inilah nantinya akan terjadi reaksi ataupun hasil yang tidak terduga dan muncul begitu saja karena adanya interaksi antar agent ataupun aktor. 

CAS sebagai sebuah sistem yang berkembang secara dinamik sebagai hasil dari proses perkembangan yang bersifat “pengorganisasian-sendiri” (self-organization). Sistem terdiri dari aktor atau agen semi-otonom yang saling berinteraksi dengan cara yang tidak dapat diprediksi sedemikian sehingga menghasilkan pola sistem menyeluruh. 

CAS memiliki sifat dasar berupa pengorganisasian-sendiri, namun hal ini tidak berarti bahwa sistem tidak dapat diintervensi. Baik sebagai pengamat maupun sebagai bagian dari sistem, kita dapat melakukan intervensi untuk mengarahkan agar interaksi antar aktor menghasilkan pola yang koheren. Meskipun tidak dapat mengontrol atau memprediksi proses pengorganisasian-diri yang terjadi dalam sistem, kita dapat mengintervensi sistem dengan memahami kondisi yang menentukan arah, trayektori dan kecepatan proses pengorganisasian-diri. 

Menurut Olson dan Eoyang (2001), terdapat tiga hal yang menentukan proses pengorganisasian-diri: wadah-pembatas (Container), perbedaan signifikan (Difference) dan pertukaran yang mentransformasi (Transforming exchange). Pelaku industri dapat dibagi menjadi tiga kelompok yakni : (i) sektor on farm (perkebunan) yang terdiri lebih dari 60 perusahaan (perusahaan perkebunan swasta, perkebunan rakyat dan perkebunan pemerintah/PTPN); (ii) sektor off farm yang terdiri dari a) sektor hulu (pengolah Crude Palm Oil), yang biasanya merangkap sebagai penanam kelapa sawit dan b) sektor hilir yang mengolah CPO menjadi berbagai produk turunan, antara lain oleochemical, minyak goreng, margarine, dan biofuel. Sejauh ini sektor industri hulu di Sumatra Utara terdiri dari 105 perusahaan dengan total kapasitas terpasang lebih dari 3.540 ton TBS per jam (Herawan dkk, 2009). Sedangkan untuk industri hilir, terdiri dari 15 perusahaan minyak goreng (kapasitas 2,8 juta ton per tahun), 4 perusahaan oleochemical (kapasitas 385 ribu ton per tahun), 3 perusahaan margarin (kapasitas 19 ribu ton per taunh), dan 1 perusahaan biodiesel (kapasitas 240 ton per tahun). Sementara itu, lembaga penelitian dan pengembangan (litbang) kelapa sawit di Sumatra Utara dapat dikelompokkan menjadi tiga, yaitu (i) lembaga litbang milik pemerintah (Pusat Penelitian Kelapa Sawit/PPKS dan Lembaga Riset Perkebunan Indonesia/LRPI), (ii) lembaga litbang mandiri yang pada umumnya dimiliki oleh perusahaan perkebunan swasta asing, dan (iii) lembaga litbang yang merangkap sebagai produsen bibit. Dalam hal penyediaan bibit, wilayah Sumatra Utara memiliki lebih kurang sembilan produsen bibit sawit di antaranya adalah PPKS, PT Asian Agri, PT Sucofindo, dan PT London Sumatra. Sedangkan untuk pemenuhan tenaga kerja terampil dan kerja sama kegiatan litbang, selain mengandalkan Universitas Sumatra Utara (USU), juga melibatkan beberapa perguruan tinggi unggulan yang berada di Pulau Jawa antara lain Institut Pertanian Bogor (IPB), Insititut Teknologi Bandung (ITB), dan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS). 

Pada level selanjutnya, industri kelapa sawit di Sumatra Utara diperkuat beberapa institusi pendukung yang meliputi lembaga keuangan (terutama bank), lembaga pemerintah (kantor pelabuhan, perpajakan, dll), dan asosiasi industri. Asosiasi industri kelapa sawit yang ada di Sumatra Utara antara lain adalah Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (APAKSINDO), Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Asosiasi Industri Minyak Makan Indonesia (AIMMI), Federasi Minyak Makan dan Lemak Nabati Indonesia (FAMNI), dan Asosiasi Produsen Oleochemical Indonesia (APOLIN). Sedangkan Asosiasi gabungan dari berbagai pemangku kepentingan antara lain, Lingkar Sawit Indonesia, Konsorsium Penelitian Sawit Indonesia, dan Dewan Sawit Indoensia. Lebih jauh, dari pihak pemerintah yang relatif banyak berperan di industri kelapa sawit adalah Departemen Pertanian (Dinas Perkebunan Provinsi Sumatra Utara), Departemen Perindustrian, Departemen Kehutanan dan Departemen Perdagangan. Pola dari tiap aktor dalam ABG di Medan (Sumatera Utara) menunjukkan interaksi antar Lembaga Penelitian Universitas Sumatera Utara (LP USU) dengan sektor industri relatif lebih dinamis dan bergerak membentuk pola keberlanjutan, walaupun hubungan ini hanya untuk bidang penelitian tertentu – khususnya pada analisis dampak lingkungan (amdal) bagi perusahaan dan peningkatan nilai tambah komoditi produk agribisnis. Sedangkan jalinan antara LP USU dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbang) Sumatera Utara lebih banyak interaksi dalam kegiatan perencanaan strategis bagi pembangunan daerah, penyusunan dokumen tata ruang wilayah, dan penelitian terhadap daya dukung kewilayahan. Interaksi antara Balitbangda Sumatera Utara dengan Industri belum terjalin sebagaimana mestinya. 

Pola linkages di Surabaya (Jawa Timur) menunjukkan keterkaitan ketiga aktor telah terjalin namun dengan intensitas yang berbeda-beda. Jaringan yang ada belum menunjukkan bahwa interaksi antara universitas dan industri serta pemerintah dan industri belum kuat. Institut Teknologi Surabaya mengembangkan unit inkubator untuk menciptakan terjadinya sinergi keterkaitan antara akademisi, industri dan pemerintah. Salah satu lembaga yang mereka bentuk adalah clearing house. Clearing house ini untuk menjembatani jalinan kerjasama dan interaksi ABG dapat berjalan maksimal. Bahkan untuk memantau adanya interaksi antara ketiganya, lembaga ini memanfaatkan media sebagai pendukung terciptanya jaringan ini. Pola keterkaitan disebabkan tidak adanya wadah pembatas ataupun magnet yang menyebabkan masing-masing aktor saling membutuhkan satu sama lain. Kegiatan penelitian yang dilakukan belum menjadi daya tarik bagi industri untuk menjadikannya sebagai bahan pertimbangan dalam pengembangan industri. Kegiatan penelitian diciptakan berdasarkan keinginan masing-masing aktor di lembaga penelitian tidak berdasarkan keinginan ataupun kemauan industri. Sebaliknya industri tidak mempunyai kemauan untuk mendapatkan hasil litbang. 

Sementara di Surakarta (Jawa Tengah) menunjukkan bahwa keterkaitan ketiga aktor telah terjalin namun dengan intensitas yang berbeda-beda. Jaringan yang ada belum menunjukkan bahwa interaksi antara universitas dan pemerintah belum kuat, namun interaksi antara pemerintah dengan industry dan juga industry dengan universitas telah terjalin cukup kuat. Pola keterkaitan disebabkan tidak adanya wadah pembatas ataupun magnet yang menyebabkan masing-masing aktor saling membutuhkan satu sama lain. Kegiatan penelitian yang dilakukan oleh universitas belum mendapat respon positif dari pemerintah dikarenakan komunikasi yang ada belum berjalan efektif. Iptek sebagai sarana daya saing antar negara juga harus bermanfaat kepada masyarakat sekitar. Dengan kata lain, memilih sektor-sektor yang menjadi kebutuhan masyarakat secara nasional perlu dijadikan sebagai misi pengembangan IPTEK. 

Kunci utama pengembangan dan implementasi konsep terhadap sektor kebutuhan masyarakat adalah kreativitas dari masing-masing stakeholder yang terlibat, baik dari unsur Akademisi sebagai peneliti, kalangan Bisnis sebagai pelaku, dan pihak Government sebagai pemangku kebijakan. Sinergi antara Akademisi, Bisnis, dan Government (ABG), diharapkan daya saing Indonesia sebagai negara dan bangsa akan semakin tinggi. Sinergi yang baik atau rantai kinerja harus terjadi antara perguruan tinggi yang menghasilkan sumber daya manusia dan teknologi, pengusaha atau industriawan yang memberdayakan secara optimal sumber daya manusia dan teknologi, pemerintah yang memfasilitasi dengan perundangan, pertauran serta infrastrukturnya, masyarakat yang kreatif dan dengan komitmen yang tinggi terhadap kemajuan industri sendiri. 

Dengan sinergi semacam itu yang disebut dengan sinergi ABG sangat patut dikembangkan secara solid untuk mengatur ketertinggalan dengan bangsa lain. Dengan terbentuknya sinergi tersebut maka industri yang berbasis riset dan sumber daya yang tangguh akan terbentuk dan memiliki keunggulan komparatif. Konsep ekonomi dan inovasi harus menjadi satu kesatuan sehingga dapat bersinergi, hal ini penting bagi daerah. Ada baiknya wadah yang muncul bukan hanya wadah yang ada sekarang, tetapi ada wadah lain yang memang disesuaikan dengan kepentingan. Peran penting dari lembaga-lembaga riset pun menjadi salah satu faktor yang bisa dipakai untuk mengintervensi munculnya wadah-wadah baru di daerah. (*Prakoso Bhairawa Putera)

Studi Complex Adaptive System (CAS) Proses Pembentukan Klaster Industri Pendukung Sistem Inovasi di Indonesia

Studi CAS Proses Pembentukan Klaster Industri - Prakoso Bhairawa Putera, dkk
Judul Buku : Studi Complex Adaptive System (CAS) Proses Pembentukan Klaster Industri Pendukung Sistem Inovasi di Indonesia
Penulis : Prakoso Bhairawa Putera, Muhammad Zulhamdani, Dudi Hidayat, dan Dini Oktaviyanti.
Penerbit : LIPI Press, Jakarta, 2011.
Jumlah Halaman : x + 155 hlm.; 14,8 x 21 cm
ISBN 978-979-799-645-1

Seiring dengan perkembangan industri di era globalisasi saat ini, aktivitas ekonomi menuju pada kegiatan usaha yang bersifat intensif pengetahuan. Hal ini terkait dengan pesatnya perkembangan teknologi yang mengiringi era globalisasi ekonomi. Kondisi ini berdampak pada sangat ketatnya persaingan, dan cepatnya terjadi perubahan lingkungan usaha. Seiring dengan perkembangan industri di era globalisasi saat ini, aktivitas ekonomi menuju pada kegiatan usaha yang bersifat intensif pengetahuan. Hal ini terkait dengan pesatnya perkembangan teknologi yang mengiringi era globalisasi ekonomi. Kondisi ini berdampak pada sangat ketatnya persaingan, dan cepatnya terjadi perubahan lingkungan usaha kegiatan-kegiatan inovasi. Sayangnya, konsep pengembangan klaster industri dalam kebijakan industri nasional belum mengarah pada implementasi sistem inovasi. Klaster industri yang ditekankan pada kebijakan tersebut lebih kepada klaster yang terdiri atas industri pemasok bahan baku dan industri pengolahan. Hal inilah yang mendorong tim penelitian untuk menyajikan hasil studi di tahun 2010 dalam bentuk buku ilmiah ini. 

Buku dengan judul Studi Complex Adaptive System (CAS) Proses Pembentukan Klaster Industri Pendukung Sistem Inovasi di Indonesia merupakan salah satu terbitan dari hasil kegiatan penelitian Pusat Penelitian Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (PAPPIPTEK-LIPI) tahun 2010 yang mempunyai tujuan untuk mengetahui posisi klaster industri di Indonesia dilihat dari fase pertumbuhan klaster. Dalam buku ini terutama diungkapkan studi kasus pada Solo Technopark (Solo-Jawa Tengah) dan Klaster Industri Kelapa Sawit (Medan-Sumatra Utara). Selain itu, diungkapkan proses pembentukan klaster industri di Indonesia dengan pendekatan complex adaptive system. 


BAB I COMPLEX ADAPTIVE SYSTEM (CAS) DAN KLASTER INDUSTRI: SUATU PENGANTAR 
1.1 Pendahuluan 
1.2 Permasalahan Klaster Industri dengan Studi CAS 
1.3 Metode Complex Adaptive System dan Analisis Data 
1.4 Sistematika Penulisan 

BAB II PERSPEKTIF TEORI COMPLEX ADAPTIVE SYSTEM (CAS) DALAM PEMBENTUKAN KLASTER
2.1 Pendekatan Complex Adaptive System 
2.2 Pendekatan CAS untuk Analisis Perkembangan Klaster 
2.3 Konsep Klaster Industri 
2.4 Konsep Sistem Inovasi 

BAB III KAJIAN COMPLEX ADAPTIVE SYSTEM (CAS) PEMBENTUKAN KLASTER DI BEBERAPA NEGARA ASIA (TAIWAN, INDIA, DAN THAILAND) 
3.1 Hsinchu Science Park di Taiwan 
  3.1.1 Sejarah Pembentukan Hsinchu Science Park 
  3.1.2 Perusahaan yang terdapat di HSP 
  3.1.3 Hubungan Lembaga Riset, Pemerintah, Universitas dan Perusahaan di HSP 
  3.1.4 Sumber Daya Manusia di HSP 
  3.1.5 Pertumbuhan di dalam HSP 
3.2 Bangalore ICT Cluster di India 
 3.2.1. Sejarah Pembentukan Bangalore ICT Cluster 
 3.2.2. Pertumbuhan Perusahaan di Bangalore ICT Cluster 
 3.2.3 Hubungan Lembaga Riset, Universitas dan Perusahaan 
 3.2.4 Sumber Daya Manusia Pengembangan Klaster 
3.3 Hard Disk Drive (HDD) Cluster di Thailand 
 3.3.1 Sejarah Pembentukan Hard Disk Drive Cluster 
 3.3.2. Pertumbuhan Perusahaan HDD di Thailand 
 3.3.3 Permasalahan Pengembangan Industri HDD di Thailand 
 3.3.4 Bentuk Kluster HDD di Thailand 

BAB IV ANALISIS PROSES PEMBENTUKAN KLASTER DI INDONESIA: STUDI KASUS SOLO TECHNOPARK (SURAKARTA) 
4.1 Gambaran Umum 
4.2 Sejarah Awal Proses Pembentukan 
4.3 Pelembagaan IGI Sister - Surakarta Competency and Technology Center 
4.4 Pengembangan SCTC Menuju STP 

BAB V ANALISIS PEMBENTUKAN DAN PERTUMBUHAN KLASTER INDUSTRI KELAPA SAWIT DI INDONESIA: STUDI KASUS PUSAT PENELITIAN KELAPA SAWIT (MEDAN) 
5.1 Sejarah Pembentukan 
5.2 Fase Pertumbuhan Klaster Industri dalam SIN 
5.3 Elemen SIN (OECD): Interaksi Medan 
5.4 Struktur Pola Pembentukan Pendukung SIN 

BAB VI ANALISIS PERBANDINGAN PROSES PEMBENTUKAN KLASTER DI INDONESIA DAN NEGARA – NEGARA ASIA LAINNYA (TAIWAN, INDIA, DAN THAILAND) 
6.1 Tinjauan Perbandingan Container Proses Pembentukan Klaster
6.2 Tinjauan Perbandingan Difference Proses Pembentukan Klaster
6.3 Tinjauan Perbandingan Transforming Exchange Proses Pembentukan 

BAB VII PENUTUP 
7.1 Simpulan 
7.2 Saran

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More