Nostalgian Kuliner di Kota Palembang

Kerinduan itu segera menuntun kaki saya menyusuri tempat-tempat yang sedari kuliah dulu menjadi tempat pilihan saya bersama rekan-rekan menghabiskan akhir pekan atau sekadar mentraktir para sahabat. (*Prakoso Bhairawa Putera)

ARAH PERUBAHAN UU IPTEK

Namun, rencana perubahan tidak mencantumkan peneliti dan perekayasa sebagai bagian penting dari sumber daya.Padahal, pelaku aktivitas penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek terletak pada peneliti dan perekayasa.

Makam Kesultanan Palembang Darussalam

Masyarakat Palembang mengenal kompleks pemakaman ini dengan sebutan Kawah Tekurep. Nama tersebut berasal dari bentuk atap bangunan utama pemakaman yang berbentuk cungkup (kubah) melengkung berwarna hijau. (*Prakoso Bhairawa Putera)

Penyerahan Hadiah Pemenang LKTI Seskoal 2012

Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Arief Rudianto, SE., menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba karya tulis ilmiah dengan tema “Menuju Kejayaan NKRI sebagai Negara Kepulauan yang Bervisi Maritim”.

"MABUK OTDA" KETIKA DAERAH BARU (DINILAI) GAGAL

Gegap gempita otonomi ternyata membawa konsekuensi logis dengan perubahan dalam sistem pemerintahan daerah.(Esquire Indonesia, Juni 2013 *Prakoso Bhairawa Putera)

Riset Indonesia, Fokus Ke Mana?

Jakarta - Kita lebih mengenal 10 November sebagai hari Pahlawan. Padahal, dunia memperingatinya sebagai World Science Day. Sebenarnya, apa makna riset bagi peneliti? apa permasalahannya di Indonesia? dan bagaimana solusinya? Topik Riset mungkin tidak seksi bagi pendengar. Namun, permasalahan ini perlu diungkapkan agar masyarakat lebih mengenal apa itu riset.

LIPI mendapat kesempatan menjawabnya melalui “Indonesia Bersaing”, sebuah program milik Radio Sindo Trijaya FM pada 26 November 2013 lalu. Program talkshow tersebut menghadirkan narasumber Grace Simamora, MM dan Prakoso Bhairawa Putera dari Pusat Perkembangan Iptek LIPI.

"Riset berarti mencari kembali solusi permasalahan," ungkap Prakoso Bhairawa Putera. Menurut peneliti yang sudah mencapai jenjang Madya ini, seorang peneliti harus mampu mengubah problem menjadi solusi. "Riset yang dilakukan harus melihat seberapa besar dampaknya dan memastikan apakah hasil penelitian tersebut bermanfaat kepada masyarakat," ujarnya. “Hasil riset tidak bisa langsung diukur, hasilnya baru dapat dilihat dalam 3-4 tahun ke depan,” tambahnya.

Terkait dengan periset, Prakoso mengatakan bahwa syarat utama menjadi periset yang unggul itu harus telaten. “Untuk menjadi periset yang baik harus punya kepakaran. Menjadi peneliti adalah pilihan, konsekuensi harus diterima, harus pegang komitmen,” tegasnya.

Kepala Bidang Sistem Informasi Iptek, Grace Simamora, MM menyebutkan, berdasarkan data tahun 2012, periset Indonesia masih sangat sedikit jumlahnya, hanya 1,72 per 10.000 populasi. Ia membandingkan dengan Malaysia yang telah memiilki 7,1 peneliti per 10.000 populasi; Singapura, 5,8 peneliti per 10.000 populasi (2009); Thailand 3,4 peneliti per 10.000 populasi (2009); Filipina, 1,3 peneliti per 10.000 populasi (2009). “Kepala LIPI selalu menyatakan bahwa, minimalnya peneliti kita adalah 1 % dari jumlah penduduk Indonesia, walaupun itu masih belum juga cukup,” ungkapnya. “Di sektor industri,  dari 27000 industri yang ada di Indonesia, hanya sekitar 300 di antaranya mengaku melakukan kegiatan penelitian,” tambahnya.

Grace juga mengatakan bahwa pada area tertentu, Indonesia punya yang diunggulkan. Misalnya pertanian dan bioteknologi. namun itu belum menjadi unggul di tingkat regional ataupun dunia.

Prakoso menyebutkan enam pilar pembangunan Iptek, di antaranya yaitu fokus pada bidang riset. “Kita tidak dapat mengambil semua area, tetapi sebaiknya melihat pada potensi yang ada, misalnya fokus Indonesia adalah pada bidang hayati,” tandasnya. Menurutnya, peningkatan kuantitas dan jumlah kualitas peneliti juga perlu terus ditingkatkan. “Perekrutan dan perubahan cara pandang menjadi penting dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas peneliti dan penelitian. Kita juga harus bangga menggunakan produk dalam negeri”, urainya.

“Mengenai strategi menghadapi tantangan global, sebenarnya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) sudah menyusun startegi bagaimana Indonesia dapat berinovasi di 2015,” ujat Grace. Menurutnya, saat ini yang perlu diupayakan bersama adalah bagaimana mendorong industri menjadi penggiat riset, meningkatkan sinergi antar lembaga litbang, dan tentunya fokus menentukan dan mengerjakan riset.

Senada dengan pendapat Grace, Prakoso menambahkan, langkah yang harus diambil segera adalah meningkatkan jumlah, anggaran, dan memperhatikan proporsi kebutuhan.

Riset Indonesia, Fokus Kemana?

Jakarta, 29 November 2013 – Humas LIPI). Tantangan global pengembangan Iptek (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) di antara negara-negara di dunia ke depan terasa semakin sengit. Agar mampu bersaing, Indonesia setidaknya harus mampu memunculkan riset-riset yang diunggulkan. Artinya, Indonesia perlu menentukan arah riset/penelitian akan dibawa kemana?

“Pada area tertentu, Indonesia punya yang diunggulkan. Misalnya, pertanian dan bioteknologi. Sayangnya, hal itu belum menjadi unggul di tingkat regional maupun dunia,” ungkap Kepala Bidang Sistem Informasi Iptek sekaligus Peneliti Pusat Penelitian Perkembangan Iptek (Pappiptek) LIPI Nani Grace Berliana, M.Hum saat menjadi narasumber Program Talkshow “Indonesia Bersaing” di Radio Sindo Trijaya 10.46 FM, Selasa (26/11) lalu. Program talkshow tersebut selain menghadirkan Nani Grace Berliana sebagai narasumber, hadir pula Peneliti Pappiptek LIPI lainnya Prakoso Bhairawa Putera.

Prakoso menambahkan, ada enam pilar pembangunan Iptek, di antaranya adalah fokus pada bidang riset. “Bidang riset memiliki cakupan luas. Kita tidak dapat mengambil semua area, tetapi sebaiknya melihat pada potensi yang ada, misalnya fokus Indonesia adalah pada bidang hayati, selain melihat pula bidang-bidang lainnya,” tandasnya.

Selain menentukan fokus, lanjutnya, Indonesia juga perlu meningkatkan kualitas dan kuantitas peneliti. “Perekrutan dan perubahan cara pandang menjadi penting dalam meningkatkan kualitas dan kuantitas peneliti dan hasil penelitiannya. Kita juga harus bangga menggunakan produk dalam negeri dari hasil riset”, terangnya.

Masih Minim

Di lain hal, Grace, panggilan akrab Nani Grace Berliana menyebutkan bahwa peneliti atau periset Indonesia masih sedikit atau minim jumlahnya, hanya 0,08 persen dari jumlah penduduk Indonesia berdasarkan data tahun 2012. Padahal, minimalnya 1 persen dari jumlah penduduk Indonesia, walaupun itu masih belum cukup.

“Sementara pada sektor industri, sebanyak 27.000 industri yang ada di Indonesia, hanya 300 di antaranya mengaku melakukan kegiatan penelitian,” ungkapnya. Hal itu tentu menjadi keprihatinan tersendiri.

Menurut Grace, saat ini yang perlu diupayakan bersama adalah bagaimana mendorong industri menjadi penggiat riset, meningkatkan sinergi antar lembaga Litbang (Penelitian dan Pengembangan), dan tentunya fokus menentukan serta mengerjakan riset.

Selain itu, Prakoso menambahkan, langkah yang harus diambil segera adalah meningkatkan jumlah, anggaran, dan memperhatikan proporsi kebutuhan riset.

“Riset yang dilakukan harus melihat seberapa besar dampaknya dan memastikan apakah hasil penelitian tersebut bermanfaat kepada masyarakat. Walaupun hasil riset tidak bisa langsung diukur tetapi hasilnya akan terlihat dalam jangka waktu tiga hingga empat tahun ke depan,” jelasnya. (de)

Sumber: http://www.lipi.go.id/www.cgi?berita&1385710790&&2013, edisi 29 Nov 2013

PEMENANG LOMBA PENULISAN DAN FOTO IPTEK 2013

Pemenang Penulisan Iptek 2013 Kategori Penulis
Setelah batas akhir penerimaan naskah Lomba Penulisan dan Foto Iptek, ratusan naskah yang masuk diseleksi oleh Tim Seleksi dari Mapiptek dan Ristek. Selanjutnya hasil seleksi diserahkan kepada dewan juri yang terdiri dari Prof. DR. Benyamin Lakitan, Staf Ahli Menristek Bidang Pangan dan Pertanian, Prof. Dr. Satryo Soemantri Brodjonegoro, Vice President Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan Prof. Dr. Ir. Carunia Mulya Firdausy, MA, APU, peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Dari kriteria penilaian artikel yaitu bahasa, substansi, deskripsi, investigasi, analisa dan solusi akhirnya Dewan Juri sepakat menentukan pemenang lomba.

Juara satu kategori wartawan diraih oleh Nawa Tunggal (Kompas) dengan artikel berjudul ”Verti-board” untuk ”Vertical Green Wall” (terbit di Kompas, Senin 29 Oktober 2012) dengan nilai 226. Artikel berjudul Dari Angkasa Menaksir Pajak (Majalah Tempo, edisi 11 Agustus 2013) yang ditulis oleh Mahardika Satria Hadi menyabet juara dua dengan nilai 225. Sementara juara tiga diraih oleh Ani Nursalikah (Republika) dengan artikel Manta, Si Pemakan Sampah (Republika, 04 Maret 2013).

Juara satu kategori penulis diraih oleh Posman Sibuea, Guru Besar Jurusan Teknologi Hasil Pertanian Universitas Katolik Santo Thomas, dengan artikel berjudul BBM, Raskin, dan Pangkin (Suara Pembaruan, Rabu 19 Juni 2013) dengan nilai 228. Prakoso Bhairawa Putera, Peneliti Muda Bidang Administrasi dan Kebijakan Iptek, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meraih juara dua dengan artikel berjudul Arah Perubahan UU Iptek (Republika, Sabtu, 29 Juni 2013). Juara tiga diraih oleh Dr. Muhammad Evri, Peneliti Badan Pengkajian dan Penelitian Teknologi (BPPT) dengan artikel Darurat Kebakaran Hutan (LKBN Antara, 11 Juli 2013) dengan nilai 218.

Untuk menilai peserta lomba foto iptek, Prof. DR. Benyamin Lakitan dibantu oleh Itta Wijono, Fotografer Senior dan Ardito M Kodijat, Program Officer Unesco. Kriteria penilaian yaitu mengilustraikan inovasi, human interest, originalitas objek, komposisi foto, dan aspek warna, pencahayaan, serta teknik foto.

Dewan Juri pun memilih foto dari Iwan Setiyawan, berjudul Demonstrasi robot Imitabot di pameran Gelar Ilmu Universitas Indonesia 2012 (Kompas, Jumat 14 September 2012) sebagai juara pertama. Juara kedua diraih oleh Totok Wijayanto dengan judul foto Robot pesawat hasil rakitan Komunitas Robot Indonesia yang dimuat di Kompas, Minggu 4 Agustus 2013. Sedangkan juara ketiga diraih oleh Hendra A Setyawan dengan judul foto Senjata Penembak Jitu Buatan PT Pindad (Kompas, 22 Maret 2013).

Penyerahan hadiah telah dilakukan pada acara penutupan RITECH EXPO di lapangan parkir Keong Emas Taman Mini Indonesia Indah, Jakarta pada 1 September 2013.

Science & Technology and Innovation Policies in Science & Technological Research, Development, and Implementation


PRAKOSO BHAIRAWA PUTERA AND LINA MIFTAHUL JANNAH 
Indonesian Institute of Science (LIPI), Universitas Indonesia 
prak001@lipi.go.id, miftahul@ui.ac.id 

Abstract
This article analyses the observation of science & technology (Iptek) and innovation policies in activities of science and technological research, development, and implementation. Science & technology and innovation policies become an important study subject since in some countries this field gives positive effect to competitiveness of a nation. Qualitative approach was selected in studying science & technology and innovation policy in Indonesia since its appropriation with the objective of portraying national policy in science & technology and innovation. Method employed was content analysis qualitative with framing analysis, which in this study refers to concept of science & technological research, development, and implementation. The results of this study shows that national policy of Indonesia during 2000-2011 period were less supportive to development, research, diffusion, and implementation of technology in regions, proven by evidence that there was only few policies supporting the system implementation of science & technological research, development, and implementation in Indonesia. 
Keywords: science & technology, innovation, research & development, policy 

Abstrak.
Artikel ini menguraikan tinjauan kebijakan ilmu pengetahuan & teknologi (iptek) dan inovasi dalam kegiatan penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek. Kebijakan iptek dan inovasi menjadi penting untuk dikaji karena dibeberapa negara bidang ini memberikan pengaruh terhadap daya saing suatu negara. Pendekatan kualitatif dipilih untuk mengkaji kebijakan iptek dan inovasi di Indonesia karena sesuai dengan tujuan untuk memberikan gambaran mengenai potret kebijakan nasional bidang iptek dan inovasi. Metode yang dipergunakan adalah analisis isi (content analysis) yang bersifat kualitatif dengan pembingkaian (framing analysis) yang dalam studi ini kerangkanya merujuk pada konsep penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek. Berdasarkan hasil studi ini terungkap bahwa kebijakan nasional Indonesia selama periode 2000 – 2011 kurang berpihak pada pengembangan, riset, difusi, dan penerapan teknologi di daerah, terbukti dengan keberadaan kebijakan terkait pelaksanaan sistem penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek di Indonesia yang masih sangat minim. 
Kata Kunci: ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek), inovasi, penelitian dan pengembangan, kebijakan

Publikasi: International Journal of Administrative Science & Organization, Volume 19, Number 3, September 2012.  Accredited by DIKTI Kemendiknas RI No : 64a/DIKTI/Kep/2010

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More