Nostalgian Kuliner di Kota Palembang

Kerinduan itu segera menuntun kaki saya menyusuri tempat-tempat yang sedari kuliah dulu menjadi tempat pilihan saya bersama rekan-rekan menghabiskan akhir pekan atau sekadar mentraktir para sahabat. (*Prakoso Bhairawa Putera)

ARAH PERUBAHAN UU IPTEK

Namun, rencana perubahan tidak mencantumkan peneliti dan perekayasa sebagai bagian penting dari sumber daya.Padahal, pelaku aktivitas penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek terletak pada peneliti dan perekayasa.

Makam Kesultanan Palembang Darussalam

Masyarakat Palembang mengenal kompleks pemakaman ini dengan sebutan Kawah Tekurep. Nama tersebut berasal dari bentuk atap bangunan utama pemakaman yang berbentuk cungkup (kubah) melengkung berwarna hijau. (*Prakoso Bhairawa Putera)

Penyerahan Hadiah Pemenang LKTI Seskoal 2012

Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Arief Rudianto, SE., menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba karya tulis ilmiah dengan tema “Menuju Kejayaan NKRI sebagai Negara Kepulauan yang Bervisi Maritim”.

"MABUK OTDA" KETIKA DAERAH BARU (DINILAI) GAGAL

Gegap gempita otonomi ternyata membawa konsekuensi logis dengan perubahan dalam sistem pemerintahan daerah.(Esquire Indonesia, Juni 2013 *Prakoso Bhairawa Putera)

Tampilkan postingan dengan label E-FISHERIES. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label E-FISHERIES. Tampilkan semua postingan

Hasil Penelitian Berpeluang Investasi Masa Depan


puslitbangaptikaikp - Selasa, 18 Desember 2012

Jakarta – Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi-Informatika dan Informasi dan Komunikasi Publik, Jumat (14/12), mengadakan Seminar Laporan Akhir penelitian swakelola Balitbang SDM – BP3TI “Pengembangan Sistem Pengelolaan Berbasis TIK (e-fisheries) Untuk Mendukung Peningkatan Produktivitas Nelayan di Koridor Ekonomi Sulawesi.” Penelitian ini harus bersifat multiyear yang tidak saja membangun perangkat keras tetapi juga kelembagaan serta bisnis model untuk menjamin keberlanjutan program ini.

Trio Adiono, ketua penelitian, mempresentasikan perangkat keras sistem komunikasi dan navigasi (siskomnav) nelayan yang berbentuk LCD layar sentuh yang disebutnya dengan “e-fisheries”, Jumat (14/12).  Dalam demo implementasinya, Trio menjelaskan bahwa e-fisheries bekerja dengan menggunakan WiMax (Worldwide Interoperability for Microwave Access) yang didukung dengan database server dan router pada Base Station yang diletakkan di pelabuhan. Base Station Wimax ini berfungsi sebagai pemancar wireless yang akan terkoneksi dengan station di kapal nelayan sehingga pertukaran data/ informasi baik dari petugas pelabuhan maupun nelayan terjadi secara timbal balik.

Dengan teknologi Wimax, alat ini dipercaya mampu menjangkau kapal hingga 30 kilometer.  Beberapa konten telah disiapkan dalam e-fisheries ini seperti prakiraan cuaca, arah mata angin, menu log book, data hasil tangkap ikan yang diupdate per hari, hingga lokasi dan jadwal lelang ikan. Informasi ini sangat bermanfaat bagi nelayan yaitu mengurangi illegal fishing atau pencurian ikan dari kapal asing, meningkatkan akurasi prakiraan wilayah tangkapan, serta meningkatkan kesejahteraan nelayan.

Sementara bagi manajemen pelabuhan, e-fisheries mampu memantau patroli kapal  demi keselamatan nelayan serta data. E-fisheries juga mampu mendukung program pemerintah untuk meningkatkan mutu produk nelayan serta perkembangan industri perikanan itu sendiri.  Teknologi ini secara langsung telah menjawab permasalahan siskomnav yang mengandalkan satelit yakni dengan VMS (Vessel Monitoring System).

“Alatnya masih masih dikembangkan di laboratorium mikroeletronik dan diuji coba di wilayah Bandung. Pilot projectnya mudah-mudahan akan dilaksanakan tahun depan tetapi masih terbatas produksinya. Kami juga akan melakukan trial error dulu dengan sampel 100 kapal untuk mendapatkan feedback seperti apa, bagaimana dengan deploymentnya serta sosialisasinya,” demikian diungkapkan oleh Trio yang juga seorang dosen Pusat Mikroelektronik Institut Teknologi Bandung (ITB) tersebut.

Semua narasumber yang hadir dalam seminar laporan akhir tersebut melontarkan apresiasi kepada tim peneliti. Prakoso Bhairawa Putera, peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi LIPI, mengatakan penelitian yang mampu mengembangkan siskomnav dalam waktu 4 bulan adalah hal yang luar biasa. Dia membandingkan negara seperti Australia dan Amerika membutuhkan waktu 10 hingga 15 tahun untuk hal serupa.

Hanya saja peneliti lulusan pasca sarjana bidang kebijakan publik Universitas Indonesia tersebut mengingatkan kembali agar target nelayan pada penelitian ini ditegaskan apakah nelayan kecil atau nelayan menengah ke atas.

“Jangan sampai ketika kita bicara ini untuk produktivitas nelayan, tapi ini untuk nelayan yg mana dulu? Pada katagori mana? Untuk nelayan kelas bawah, ketika mereka ke darat yang di lakukannya paling tidak memperbaiki jaring. Kalau nelayan kelas atas masih bisa santai-santai, baca koran, nonton TV. Catatan saya bersediakah tim ini menyebutkan pada katagori nelayan yang mana? Supaya lebih clear.” ujar Prakoso.

Selain itu Prakoso juga berharap agar e-fisheries mampu mengintegralkan data perikanan dan kelautan yang belum terintegrasi dengan baik. Termasuk, kondisi cuaca serta mobilitas nelayan perlu dipertimbangkan sebelum men-deploy alat.

Teddy Sukardi, anggota Federasi Teknologi Informatika Indonesia, mengusulkan agar penelitian juga memikirkan skema pembayaran yang dibebankan kepada nelayan. Dalam hal ini, perlu dilibatkannya peran koperasi. Pemerintah juga bisa berperan untuk menetapkan standar teknologi, pendampingan kepada para nelayan, serta melibatkan peran serta program terkait yang sudah jalan seperti MCAP, MPLIK, relawan TIK dan sebagainya.

Selain dua narasumber tersebut, hadir pula Bapak Prof. Dr. Ir. Ngurah N. Wiadnyan, DEA, kepala Pusat Pengkajian dan Perekayasa Teknologi Kelautan dan Perikanan (Kementerian Kelautan dan Perikanan) serta Bapak Suyanto dari BP3TI. Bapak Ngurah menyatakan kesiapannya untuk membantu tim peneliti mengintegrasikan data dan sebagainya. (vim)

Penelitian e-Fisheries diarahkan Solusi Teknologi bagi Nelayan


Kerjasama Penelitian Balitbang SDM-BP3TI


Jakarta – Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika – Informasi dan Komunikasi Publik menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) laporan pendahuluan penelitian Swakelola Balitbang SDM-BP3TI, Rabu (26/9), yang berjudul “Pengembangan Sistem Pengelolaan Perikanan Berbasis TIK (e-fsheries) untuk Mendukung Peningkatan Produktivitas Nelayan di Koridor Ekonomi Sulawesi“.

Dalam presentasinya, Trio Adiono, Ph.D selaku peneliti utama menyampaikan penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem perangkat komunikasi yang dibutuhkan bagi para nelayan di wilayah Sulawesi. “Jenis perangkat yang juga harus dipikirkan yaitu apakah nantinya peralatan tersebut berupa stationary, diam di tempat, atau berupa peralatan yg bisa dibawa kemana-mana oleh nelayan tersebut” ungkap pria yang juga Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Makroelektromagnetik tersebut.

Trio menambahkan perangkat dan konten akan disesuaikan dengan kebutuhan kondisi sosiodemografi, ekonomi, serta kearifan lokal para nelayan. Outcome dari penelitian ini diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi perikanan, kesejahteraan nelayan, serta rekomendasi teknologi perangkat dan juga kebijakan bagi instansi pemerintah yang terkait.

Marza Ihsan Marzuki, narasumber dari Pusat Penelitian dan Pengkajian Teknologi Kelautan dan Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), menjelaskan bahwa KKP memiliki alat Voice Monitoring System (VMS) untuk membantu nelayan menangkap ikan. “Akan tetapi ini mendapat keluhan dari nelayan, karena sudah sulit menangkap ikan kenapa masih dibebankan juga untuk membeli peralatannya. Kisaran perangkatnya itu sekitar 10-15 juta Rupiah dengan biaya pertahunnya 3-5 Juta Rupiah,” ujar Marza yang menambahkan kapal dengan tonase di atas 100 gt wajib menggunakan VMS.

Prakoso Bhairawa Putera, Peneliti Muda dari Kebijakan dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi LIPI, mengingatkan terkait istilah e-Fisheries. Menurutnya, e-Fisheries bukanlah istilah international yang digunakan untuk menggambarkan teknologi kelautan dan perikanan. Akan tetapi, e-FIS (Fish Information System). Dia menganjurkan perlu adanya penyesuaian dari sisi judul penelitian.

Baik Marza maupun Prakoso mengingatkan bila nelayan di wilayah Sulawesi didominasi oleh nelayan tradisional yang mengandalkan kearifan lokal akan sulit untuk mengadopsi teknologi seperti Wimax atau VMS. “Untuk pendekatannya kalau bisa dibalik jangan dari identifikasi, tetapi karena sudah punya teknologi yang ada dicari ke siapakah kira-kira bisa menggunakannya sehingga bisa bermanfaat. Jangan sampai nanti riset ini sia-sia,” ujar Prakoso.

Agus mewakili Tim Kerja Koridor Ekonomi (KE) Sulawesi Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) menjelaskan Sulawesi memiliki andalan seperti Nikel, Pertanian dan Perikanan. Bahkan, Sulawesi ditargetkan menjadi Basis Pangan Nasional. Besaran indikasi nilai investasi, baik sentra produksi, infrastruktur, SDM serta IPTEK di Koridor Ekonomi Sulawesi mencapai Rp. 421,8 triliun (Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan). Indikasi nilai investasi terbesar di Sulawesi berupa budidaya udang. Akan tetapi, proyek perikananlah yang terbanyak.

Sementara Mohammad Dwiyanto, staf Direktorat Penataan Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI), mengingatkan agar setiap perangkat TIK disertifikasi oleh Direktorat Standarisasi SDPPI sesuai dengan UU Telekomunikasi No 36 Tahun 1999. Dia juga menjelaskan bahwa frekuensi untuk maritim sudah ada, meski diakuinya masih belum teratur. Sementara, frekuensi yang digunakan di peralatan wimax adalah 3.3-3.5 GHz. (vm)

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More