Penelitian e-Fisheries diarahkan Solusi Teknologi bagi Nelayan


Kerjasama Penelitian Balitbang SDM-BP3TI


Jakarta – Pusat Penelitian dan Pengembangan Aplikasi Informatika – Informasi dan Komunikasi Publik menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD) laporan pendahuluan penelitian Swakelola Balitbang SDM-BP3TI, Rabu (26/9), yang berjudul “Pengembangan Sistem Pengelolaan Perikanan Berbasis TIK (e-fsheries) untuk Mendukung Peningkatan Produktivitas Nelayan di Koridor Ekonomi Sulawesi“.

Dalam presentasinya, Trio Adiono, Ph.D selaku peneliti utama menyampaikan penelitian ini bertujuan untuk membangun sistem perangkat komunikasi yang dibutuhkan bagi para nelayan di wilayah Sulawesi. “Jenis perangkat yang juga harus dipikirkan yaitu apakah nantinya peralatan tersebut berupa stationary, diam di tempat, atau berupa peralatan yg bisa dibawa kemana-mana oleh nelayan tersebut” ungkap pria yang juga Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Makroelektromagnetik tersebut.

Trio menambahkan perangkat dan konten akan disesuaikan dengan kebutuhan kondisi sosiodemografi, ekonomi, serta kearifan lokal para nelayan. Outcome dari penelitian ini diharapkan mampu mendorong peningkatan produksi perikanan, kesejahteraan nelayan, serta rekomendasi teknologi perangkat dan juga kebijakan bagi instansi pemerintah yang terkait.

Marza Ihsan Marzuki, narasumber dari Pusat Penelitian dan Pengkajian Teknologi Kelautan dan Perikanan Kementrian Kelautan dan Perikanan (KKP), menjelaskan bahwa KKP memiliki alat Voice Monitoring System (VMS) untuk membantu nelayan menangkap ikan. “Akan tetapi ini mendapat keluhan dari nelayan, karena sudah sulit menangkap ikan kenapa masih dibebankan juga untuk membeli peralatannya. Kisaran perangkatnya itu sekitar 10-15 juta Rupiah dengan biaya pertahunnya 3-5 Juta Rupiah,” ujar Marza yang menambahkan kapal dengan tonase di atas 100 gt wajib menggunakan VMS.

Prakoso Bhairawa Putera, Peneliti Muda dari Kebijakan dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi LIPI, mengingatkan terkait istilah e-Fisheries. Menurutnya, e-Fisheries bukanlah istilah international yang digunakan untuk menggambarkan teknologi kelautan dan perikanan. Akan tetapi, e-FIS (Fish Information System). Dia menganjurkan perlu adanya penyesuaian dari sisi judul penelitian.

Baik Marza maupun Prakoso mengingatkan bila nelayan di wilayah Sulawesi didominasi oleh nelayan tradisional yang mengandalkan kearifan lokal akan sulit untuk mengadopsi teknologi seperti Wimax atau VMS. “Untuk pendekatannya kalau bisa dibalik jangan dari identifikasi, tetapi karena sudah punya teknologi yang ada dicari ke siapakah kira-kira bisa menggunakannya sehingga bisa bermanfaat. Jangan sampai nanti riset ini sia-sia,” ujar Prakoso.

Agus mewakili Tim Kerja Koridor Ekonomi (KE) Sulawesi Komite Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (KP3EI) menjelaskan Sulawesi memiliki andalan seperti Nikel, Pertanian dan Perikanan. Bahkan, Sulawesi ditargetkan menjadi Basis Pangan Nasional. Besaran indikasi nilai investasi, baik sentra produksi, infrastruktur, SDM serta IPTEK di Koridor Ekonomi Sulawesi mencapai Rp. 421,8 triliun (Pusat Data Statistik dan Informasi, Kementerian Kelautan dan Perikanan). Indikasi nilai investasi terbesar di Sulawesi berupa budidaya udang. Akan tetapi, proyek perikananlah yang terbanyak.

Sementara Mohammad Dwiyanto, staf Direktorat Penataan Sumber Daya Perangkat Pos dan Informatika (SDPPI), mengingatkan agar setiap perangkat TIK disertifikasi oleh Direktorat Standarisasi SDPPI sesuai dengan UU Telekomunikasi No 36 Tahun 1999. Dia juga menjelaskan bahwa frekuensi untuk maritim sudah ada, meski diakuinya masih belum teratur. Sementara, frekuensi yang digunakan di peralatan wimax adalah 3.3-3.5 GHz. (vm)

0 komentar:

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More