Nostalgian Kuliner di Kota Palembang

Kerinduan itu segera menuntun kaki saya menyusuri tempat-tempat yang sedari kuliah dulu menjadi tempat pilihan saya bersama rekan-rekan menghabiskan akhir pekan atau sekadar mentraktir para sahabat. (*Prakoso Bhairawa Putera)

ARAH PERUBAHAN UU IPTEK

Namun, rencana perubahan tidak mencantumkan peneliti dan perekayasa sebagai bagian penting dari sumber daya.Padahal, pelaku aktivitas penelitian, pengembangan, dan penerapan iptek terletak pada peneliti dan perekayasa.

Makam Kesultanan Palembang Darussalam

Masyarakat Palembang mengenal kompleks pemakaman ini dengan sebutan Kawah Tekurep. Nama tersebut berasal dari bentuk atap bangunan utama pemakaman yang berbentuk cungkup (kubah) melengkung berwarna hijau. (*Prakoso Bhairawa Putera)

Penyerahan Hadiah Pemenang LKTI Seskoal 2012

Komandan Seskoal Laksamana Muda TNI Arief Rudianto, SE., menyerahkan hadiah kepada pemenang lomba karya tulis ilmiah dengan tema “Menuju Kejayaan NKRI sebagai Negara Kepulauan yang Bervisi Maritim”.

"MABUK OTDA" KETIKA DAERAH BARU (DINILAI) GAGAL

Gegap gempita otonomi ternyata membawa konsekuensi logis dengan perubahan dalam sistem pemerintahan daerah.(Esquire Indonesia, Juni 2013 *Prakoso Bhairawa Putera)

Takkan Pergi Rasa

mini teenlit ini telah dipublikasi di Singgalang, edisi Minggu 13 Januari 2008


BUTIR cahaya lembayung senja itu sedikit terhalang awan yang menggumpal di horison ufuk barat. Meski demikian, keelokan panorama senja itu tak sedikit pun berkurang. Garis laut yang bertemu dengan kaki langit menyemburatkan aura biru, berpadu dengan sisa-sisa sinar surya yang hendak kembali ke peraduannya.

”Inilah Ramadhan pertama di tanah Minang!” gumam hati kecilku.

Setelah penat dengan kebisingan kota yang akan beranjak megapolitan dan dendang pengamen kecil di pelataran Benteng, kutinggalkan riak Musi – Palembang – dan cerita kemarin demi tugas baru tapi selalu saja ada cerita yang tak mampu lepas.

Tak jauh dari ''pertemuan'' panorama indah laut dan langit itu, tampak burung-burung camar melayang-layang di atas riak ombak yang menggaris berbusa. Sesekali burung lincah itu menceburkan diri ke permukaan air untuk sekadar membasahi badan atau membasahi tenggorokannya yang kering setelah berkelana sepanjang hari.

”Barangkali mereka ikut puasa juga, ha...ha...” pikir anehku kambuh lagi.

Disebuah semen pembatas bibir pantai aku terdiam sendiri dan asyik bercanda dengan diri. Sendiri mungkin itulah yang acap kali membuatku bosan dan berpikir untuk mencari atau sekadar ditemani seseorang.

”Tapi apa aku mampu?” kali ini batinku bertanya.

”Mampu?”

”Yah, mungkin itulah hal yang paling malas untuk kutemukan jawabanya. Cerita bersamanya dulu terlalu indah untuk di delete dari sisa memori otak ini. Lebih baik kuhapus file yang lain saja.”

”Uh...ss.....!” nafasku mulai terbiasa dengan aroma pasir dan air laut rupanya. Aku kembali terdiam bersama kornea yang mulai betah dengan pemandangan baru di kota ini.

Tak jauh dariku, di dekat garis pantai beberapa pasang orang tua sambil menggandeng anak-anaknya menelisik pasir, bercanda diantara buih ombak yang pecah di kaki mereka.

”Yah, sepertinya sore kemarin mereka memang sedang menikmati keindahan alam sembari menunggu datangnya waktu berbuka.”

''Waktu terasa lewat begitu cepat berlalu.” tiba-tiba seseorang duduk di sebelahku. Tanpa permisi ia asyik meletakkan cangkir minuman diatas sebuah meja. ”Sepertinya tidak keberadatan jika saya berbagi minuman dan sekedar makanan ringan untuk berbuka kali ini?” lanjut sosok itu.

”Saya begitu menikmati setiap datang dan mengunjungi sore di tempat ini bersama tiupan angin dan gemercik ombak yang jatuh diantara pasir-pasir.” katanya lanjut. Aku hanya terdiam dan masih merasa seperti orang bodoh. Ia berbicara tanpa memberikan kesempatan kepadaku untuk menyela atau sekedar memotong.

”Sepertinya kau orang baru, karena tidak lebih dari tiga atau empat kali kau datang mengunjungi tempat ini. Itupun seingatku?”

”Yah, maklum mungkin saya sudah terbiasa sendiri menyaksikan matahari turun dan akhir-akhir ini ada orang baru yang ikut kebiasaan itu – ditambah ia duduk ditempat menjadi favorite dimana saya acap kali menghabiskan sore ditempat itu.” cerocotnya kemudian.

”Ha..???” sontak aku kaget, ”Waduh, sampai segitunya ada orang yang begitu fanatik dengan tempat.” pikirku.

”Saya bukan fanatik, tapi ini berkaitan dengan kenyamanan dan kenikmatan hidup.” ucap ia kemudian.

”Lho, kok ia bisa tau apa yang kupikirkan?” aku mulai bertanya-tanya dan sedikit keheranan.

”Kenapa kau masih bingung, saya bisa tau apa yang kau pikirkan., He,..” dengan senyum sedikit mengejek ia menatapku. Ekor matanya tampak menusuk.

”Teman-teman biasa menyapa dengan sebutan Aya, lumayan pendek tapi jangan samakan dengan tinggi saya yang tak lebih tinggi dengan Dian Sastro...”

”Ih,..pede dan super narsis juga orang ini.” pikirku.

”Oh,...maaf kalo aku telah menjajah tempatmu, baiklah kalo begitu aku cari tempat lain.” akhirnya ada juga kalimat yang keluar dari bibirku.

”Upzzz...maaf saya tidak akan membiarkan orang seperti anda pergi begitu saja!” balas ia dengan nada meninggi. ”Ya Allah, habis deh. Mana ini lagi puasa, gak mungkin mesti berantem dengan cewek, mana lagi rame – jangan-jangan nanti disangka akan kena pasal pelecehan lagi.” otakku mulai menerka-nerka.

”Nah, begitukan bagus. Duduk yang tenang dan temenin saya hingga berbuka. Nih kebetulan ada paket murah buat berdua yang saya beli di mal depan.”

”Ampun, mimpi apa semalam – koko bisanya sore ini ketemu dengan cewek aneh, jangan-jangan...” hati kecilku kembali berbicara, sedang cewek itu hanya senyum-senyum tanda kemenangan.

”Waktu terasa lewat begitu cepat berlalu.” ia kembali mengulang kalimat yang tadi kudengar. ”Dulu sore adalah saat yang paling saya benci dan selalu dihindari, tapi itu tak mungkin. Selama matahari masih berputar dan sang Maha masih meniupkan kehidupan ia akan selalu datang.”

”Aduh, bicara apa lagi cewek ini” aku hanya bisa berdialog dengan hati, nanti juga ia tahu dan bisa membaca apa yang aku pikirkan.

”Sampai pada suatu ketika, saya mengenal Aan. Yah,..mungkin ialah yang kemudian membuat diri betah berlama-lama menikmati sore disini. Sejak saat itu, menjelang sore saya selalu menyaksikan ombak dan pemandangan yang katanya adalah sebagian dari surga dunia bagi penglihatannya. Walau saat itu diri belum mengerti dan tak pernah bisa merasakan apa yang selalu ia katakan.”

Sementara itu sayup-sayup suara alunan ayat mulai memuai, seperti tinggal menunggu lima atau enam menit lagi, puasa hari ini akan selesai. ”Lalu kenapa kau tak bersama dia datang menikmati sore?” tanyaku polos.

Ia hanya membalas dengan senyum lalu berkata, ”Jika aku bersamanya mungkin aku yang tak bisa menikmati sore yang katanya begitu menakjubkan sampai-sampai ia begitu mencintai kota ini”

Aku masih belum mengerti apa yang ia katakan, mungkin daya tangkapku mulai berkurang atau aku terlalu tak mau ambil pusing dengan setiap kalimat yang ia lontarkan. ”Payah,..kok bisa-bisanya aku menjadi lemot begini yah!”

”Ah,..sudah jangan terlalu kau pikirkan!”

”Bila aku ceritakan mungkin kau tak juga akan paham atau mengerti.” lanjut Aya santai. Sesaat kemudian aku coba perhatikan sosok yang duduk disebelahku.

”Astagfirullah,...sepertinya aku begitu akrab dengan apa yang kulihat...”

”Ngak,..ngak mungkin, ini ngak mungkin terjadi,..” hatiku mulai berdegup kencang.

Aya kemudian berdiri dan membalikkan tubuh mengambil cup teh Poci, dengan tenang ia menyeruput dinginnya teh. Aku bengong, dan tak dapat berkata. ”Hei,..sudah azan, kau tak mau berbuka?” tanyanya lanjut.

”Ya Allah, suara azan pun luput dari sadarku,...”

”Oh yah, mungkin kita berdua punya satu tujuan yang sama kenapa datang ke tempat ini,...” lalu ia mendekat ”Mungkin takkan pergi rasa” lagi-lagi aku terdiam, bicaranya tambah membuatku bingung, kemudianku berdiri dan mulai menyaksikan orang-orang yang mulai meninggalkan bibir pantai menuju rumah suci Mu.. ”Uh...ss.....!” tarikan nafasku sedikit berat magrib ini.***

22 Ramadhan 1428 H

CERPEN: Dan Kau Telah Temukan

Cerpen ini telah dipublikasi di halaman budaya BANGKA POS, edisi Minggu 28 Juni 2009


Apakah kicau burung-burung di kala pagi lebih baik dari pada teriakan mesin-mesin tambang di sisi utara perkampungan. Aku satu dari sekian banyak manusia yang kerap menemukan suara-suara tak jelas ketukan atau syair-syair tanpa pencipta yang didendangkan oleh penghuni di sisi lain pulau itu.

”Yah, beginilah pulauku. Sebuah daratan yang terbentuk dari gumpalan-gumpalan pasir hitam yang kemudian kukenal dengan sebutan timah--begitupun pasir putih yang begitu mempesona, hingga bisa menambah daratan di negeri singa yang mampu menukar butihan pasir dengan wewangian lembaran bernilai.”

”Usss.....ssss, jangan keras-keras berkata nanti terdengar angin--lalu disampaikanya pada penghuni lain!” suara lirih menggoda.

”Lalu salah jika mocong ini berbunyi dan mengeluarkan rangkaian kata yang sedikit pedas?”

”Kurasa tak terlalu, mungkin lebih pedas cabe yang tergigit tadi—karena cepat terasa dan langsung membutuhkan gula atau air sebagai penawar.” bisik mulai menggerogoti ruang di telinga kiri.

”Ah...., sudah jangan kau panasi suasana yang sudah semakin akut. Kepadatan penghuni jalanan cukup membuat orang-orang merasa lelah termasuk dia, jadi bila kau tambahkan dengan bumbu tadi maka habislah cerita kita—karena ia akan pergi ke negeri dongeng dan bercumbu dengan kekasihnya.” lirih suara menggoda.

”Ehm...aku tak mau ke negeri dongeng—karena semua disana hanya khayal dan ketika tersadar semua yang kutinggalkan semakin bertambah, jadi lebih baik aku ikut melewati semuanya dengan mata terbuka tetapi mulut tak menganga.”

Helai kain yang menutup diri lepas satu persatu dan jatuh di lantai yang mulai berganti warna bersama potong bulan yang semakin meninggi.

”Zzzzzzzzzzzzzzz”

”Hei, kenapa kau terdiam?” bisikan pindah di telinga sebelah kanan.

”Aku terjebak dalam keliaran malam yang menjemput, bulan diatas sana mungkin tersenyum padaku, kutemukan kau dalam rinai air mata yang jatuh dipundak dan ingin kuhantarkan hangat pada jiwa yang hampa.”

”Sebenarnya menatapmu dalam mimpipun aku menjadi lelah, mata terlalu cepat jatuh dan kehilangan selera. Ups..ada yang bertanya pada bisik di gelap hari—aku ada dimana ketika rasa mulai tertambat?”

”Sudahlah jangan kau cemarin otakmu yang mulai kelebihan beban itu dengan hal-hal yang memuakan. Mari tidur dan nikmati keindahan alam barzah,..” kembali, lagi dan lagi bisikan itu hadir di sisi kiri telinga.

Mata menatap tajam di sisi selatan ruang, di atas meja tergeletak sebuah majalah dengan terselip coretan merah melingkar. Halaman majalah itu tampak masih mulus, dan aroma khas kertas cetak begitu menyengat ketika hidung didekatkan.

Dahulu ramai kapal-kapal berlayar dan melewati perairan celah diantara dua pulau, Belitung dan Bangka. Namun, tak sedikit diantaranya celaka di Selat Gaspar itu. Kini, jalur laut berbentuk corong, dimana air yang berwarna biru kehijauan menyimpan sekawanan batu dan gosong karang kembali ramai, lantaran penyelam pengumpul teripang menemukan balok koral yang penuh dengan keramik peninggalan Dinasti Tang.

”Ayolah jangan kau buat lagi otakmu berputar, letakkan majalah itu” sisi kanan coba membujuk.

”Bersegeralah tidur, agar besok kau hirup udara pagi bersama suara jagomu”

”Kenapa kau begitu menikmati dongeng tentang kapal karam yang membawa sekitar 55.000 mangkuk yang dibuat ditempat-tempat pembakaran propinsi Hunan, puluhan mil dari tempatmu tinggal.” nada meninggi mulai berkeliaran di sisi kiri.

Aku tak sedang menikmati dongeng, tak salah bila kutahu tentang pulauku lebih banyak – walau aku tak sepulau.

”Ini dongeng kawan, hanya kebetulan belaka yang dihadirkan oleh alam dan para penyelam yang kata majalahmu itu telah menemukan situs arkeologi laut terpenting di Asia Tenggara.” kanan dan kiri terasa berisik dengan lontaran kata.

Ketidak setujuan bukan sebuah pilihan atas penemuan kapal layar tradisional Arab bertiang dua ”dhow” dari abad kesembilan yang bermuatan penuh kerajinan emas, perak dan keramik dari tanah Tiongkok. Ini benar, dan majalah telah dengan gamblangnya memuat tiap foto dan esai secara lengkap.

”Ah,..itu bisa-bisa penulisnya,...”

”Sudahlah hidupmu terlalu banyak dongeng,...” kiri dekat menggoda dengan ejekan tak mengenakan.

Ada sebuah pelayaran terbesar yang pernah hadir di sekitar pulau.

”Mulai lagi kau berdongeng kawan,..”

Tat kala laksamana besar Cheng Ho berlayar di 1405, tidak kurang 317 armada mengiringi beliau. Tiongkok menjadi tak terkalahkan di wilayah laut. Kemegahan ini pun menjadi bagian terpenting dalam perjalanan para saudagar Tiongkok yang ikut mendikte perniagaan di penjuru dunia. Ironisnya di dalam negeri sendiripun mereka ikut didikte oleh kebudayaan dan nilai-nilai asing. Setidaknya Confucius telah mencatat bagian itu.

”Kawan apalagi ceritamu di malam yang mulai merayap hingga menaikan selera tidur dan kemudian menghempaskannya hingga matapun terbelalak.” sepertinya sisi kanan mulai menyerah.

878 Masehi, setengah abad lebih sedikit setelah kapal ”dhow” karam. Pemimpin pemberontakan Huang Chao membakar dan menjarah Guangzhou, membunuh puluhan ribu warga muslim, yahudi, kriten dan parsi. Tak lama setelah berakhirnya perjalanan Cheng Ho, ketika Columbus mendarat di Dunia Baru. Pemikiran-pemikiran Confucius mulai terbukti; Tiongkok membakar armada kapalnya dan mulai menutup diri. Jalur-jalur perdagangan diabaikan hingga bangsa Portugis mulai mengambil alih.

”Kawan terbayang, tentang ramainya balok putih timah dan berton-ton muatan kapal membawa lada keluar dari pulau dan menjajah ditiap-tiap rumah tuan-tuan Eropa. Sedang kita menjadi terjajah oleh mereka.” si kiri menjadi tertegum dan berasumsi.

”Lalu kini apa yang kita nikmati” sisi kanan bertanya.

Sekarang ramai sudah dendang tanpa partitur dilantunkan ditiap terang hari dari penjuru pulau, meninggalkan dulang dikala musim nganggung, dan menyemarakan kotak-kotak putih di langgar dan masjid. Menjejalkan bangunan tinggi atas nama pembangunan dan menghilangkan ruang terbuka hijau. Menjajah laut perairan dengan jala-jala asing. Kesemuanya bukan milik kita – bukan gawe kite. Tidak di daratan, tidak juga di lautan, negeriku menjadi incaran banyak orang.

Sekarang subuh telah memanggil, mata mulai merapat,..

”Yah,..dan Kau Telah Temukan,..” kiri dan kanan bersorak.

”Kau Telah Temukan,..insomnia”,..***

CERPEN: MEMBATU

LANGIT terasa hampa dalam dingin malam yang telah berintegral dengan hujan. Serpihan air tak henti menjatuhkan diri, kemudian dengan bersamaan dan perlahan menghujam pada tiap lapisan tanah. Namun, diantara semua, ada juga yang tak mampu merapatkan diri hingga ke dasar paling dalam. Mereka sepertinya kehabisan energi sehingga hanya mampu mengelompokkan diri pada genangan di permukaan. Tapi pada lensaku itu tak ada, kini. Kuterus menjejak, pepohonan terlihat melebarkan tawa menyambut kedatangan. Tunas-tunas tampak asyik memainkan tiap butir air yang jatuh mengenai tubuh hijaunya. “Indah betul negeri ini!”.

Sesaat jejak mengecil bersama gemertak rumpun bambu. Daun-daunnya berayun manja.

“Kau telah lama tak datang!”

“Apa kau tak rindukan kami?”

Kini jejak benar-benar terhenti. “Rinduku telah tersayat pada tiap celoteh burung-burung gereja yang acapkali mengabari duka kekasih.”

Pada kelam hari kutemukan ada yang duduk bersilah pada pokok pohon yang telah ditinggalkan pucuk-pucuk kuning, ranting-ranting kopong dan getah menyengat. Sebelah tangannya terbuka menadah tetes liur punggawa, sedang satu bagian jari-jari terlukanya asyik memainkan tiap helai rambut sang dewa. Ia telah meluruhkan pekat semerbak tropis – melambungkan darah hingga titik tertinggi pada pendewasaan jiwa. Sesaat berlalu, dari hitam malam satu persatu penghuni mengitarinya.

“Hai, apa yang kau lakukan disini?” dari rimbun malam sesosok tampak sudah. Pandangannya jauh ke depan. Ia telah menunggu sejak kepergiaan kuterakhir. Dan selama itu, pada kumpulan bebatuan ia mengawasi semua yang datang dan pergi.

“Aku menunggumu!” kata-katanya seolah sedang marah. Tapi sungguh aneh, aku tak mengenal siapa dia. Kenapa ia marah padaku?

“Kau tak mengenalku?”

“Kau yang menjadikan aku menunggu.”

Kulepaskan pandangan dengan seksama, sekeliling begitu gelap hanya beberapa nyala pelita yang menatulkan cahaya. Aku kemudian merendahkan tubuh, tangan mengusap-usap tepat dibagian bawah tubuh. Sesuatu begitu keras mulai kurasakan. Pusat syaraf pun mengamini.

“Nah, kau sadar kenapa aku menunggu?”

“Itu ulahmu!” suaranya semakin meninggi sembari melirikkan pandang.

“Setiap jejak yang kau tinggalkan menjadi rahmat bagi orang-orang disana. Kata orang-orang jejakmu menjadikan mereka terhormat dan dihormati. Hingga wajar saja, pada tiap jengkal yang telah berlumpur dan berwarna coklat airnya menjadikan orang-orang berbondong datang dengan membawa batu-batuan. Orang-orang lalu menabur pada tiap jejakmu. Sampai akhirnya tak ada lagi kubangan tempat sapi mandi ataupun kambing sekadar menumpang minum” pandangannya kembali menjauh. Entah sadar atau tidak kalau diri telah begitu dekat dengannya.

“Kau sadar sekarang? Jangan mengelak!”

Aku hanya membulatkan mulut, sepertinya molekul ingatanku terlalu padat. Rongga pun terlalu sesak. Agak lama aku memilah berkas mana yang berhubungan dengan ucapannya. Tapi hingga seperempat perjalan jam belum juga kutemukan.

“Kau telah membuat semua berubah, orang-orang yang dulunya hidup dalam surga kau kenalkan dengan buah-buah terlarang. Dulu mereka hidup dengan damai sampai kau dan jejakmu menjadikan semuanya aneh. Dan sungai yang telah memberikan banyak ikan menjadi sepi dari kail ataupun jala, bahkan mulai ditinggalkan perahu-perahu berjiwa. Sawah ladang tempat padi dan sumber penghidupan hadir menjadi lengang dari sabit ataupun parang panjang. Ternak-ternak tanpa kesusahan mendapatkan minum dan panganan di sabana. Semunya menjadikan orang-orang itu betah berlama-lama mendiami negeri surga ini”

“Ha...ha...ha...!” dentum tawa keluar dari mulutnya. Sesaat kemudian matanya yang merah memandangku lekat, mimiknya perlahan berubah penuh kebencian. Aku semakin menjadi orang bodoh dihadapannya.

“Kau datang sebagai khalifah di negeri surga ini.” lanjutnya.

“Semua kata yang keluar menjadi pedoman bagi orang-orang itu, dan mereka bertingkah seperti yang kau tuturkan.”

Aku benar-benar tak mampu menuturkan sedikit kata. Tak ada yang bisa diterima oleh memori otak kecilku. Ucapannya menjadikan aku semakin terpojok dengan hal-hal gila dan benar-benar tak kuketahui. Hingga migren dengan cepatnya menyerang. Aku kemudian menjejak menjauh. Pantulan pelita yang kulihat, begitu mempesona. Cahayanya terlihat memanjang mengikuti tubuh anak sungai.

Tapi tiba-tiba derap kaki membelah kesunyian malam. Mataku belum menangkap siapa-siapa pemilik derap itu. Namun, yang terlihat hanyalah nyala api yang menjilati sisa hujan.

“Nah, kau masih belum sadar juga. Orang-orang itu kembali mendatangi tempat dimana buah-buah terlarang itu ada. Mereka sekarang menjadi kehilangan selera berlama-lama menjemur padi, menanamkan kaki pada lumpur sawah, atau menarikan jemari pada tiap sela pucuk-pucuk rumpun lada. Alhasil, mereka menjual semua yang dipunyai. Mulai dari padi, lada sampai hektar garapan harus berganti dengan setumpuk kertas bernilai.”

Aku terhenyak. Tak kupikirkan kalau yang ia maksud adalah ini semua. Ketika, aku mulai berhasil menarik berkas itu. Dengan gagahnya sekelompok orang melewati tubuhku. Aku mulai merasa aneh. Setelah kelompok pertama berlalu, tubuh pun kucoba berdiri. Tapi belum setengah kutegakkan tubuh, kelompok kedua tanpa menghiraukan menjejak ditubuhku yang mulai kehilangan udara. Perlahan mataku kabur dan akhirnya tak terlihat mereka yang ada diatas tubuhku.

“Mereka tak lagi mengenaliku. Mereka lebih kenal dengan buah-buahan terlarang yang dulu pernah kubagikan pada mereka?”

Pada detik berikutnya tubuhku telah merapatkan diri dengan jalanan yang telah berbatu. Lalu ruang-ruang itu menjadi sepi dan kembali menyendiri menyaksikan tubuhku yang dipenuhi mimpi. Membatu bersama jalanan yang telah berbatu.***

Palembang, 15 April 2006

Jejak Surat Cinta

“INI yang kelima kalinya surat tanpa pengirim yang gue terima!” pekik Ika dalam hati, ketika melihat sebuat surat di sela lembaran buku tugas yang baru dibagikan. Seperti isi surat yang lalu, begitu romantis.

“Ika sayang kenapa kamu tidak datang di Taman Kota sore kemarin? Ika aku sangat mencintaimu”.

Ika merasa mual ingin muntah begitu membacanya. “Dasar cowok iseng” katanya lirih. Bel tanda pulang berbunyi. Ika yang tergolong “anak babe” itu menuju parkir kendaraan. Belum sampai di pelataran parkir, ia terkejut ketika merogoh sakunya, “Ya ampun, kunci motor gue!”. Cepat-cepat ia balik 180 derajat kembali ke kelas.

“Ini dia!” kata Ika menimang-nimang kunci motornya, tetapi ia jadi heran ketika menemukan kumalan surat yang ia buang di tong sampah tadi sudah ada di atas mejanya. Jantungnya makin berdebar karena di sebelah kumalan tersebut terdapat sepucuk surat beramplop putih. Seisi kelas kosong, hening dan sepi. Apalagi ditambah tulisan di sampul surat bertinta merah. “Ih…ngeri” bergegas Ika meninggalkan kelas.

****


“Surat misterius lagi !” pekik Ika. Matanya setengah melotot melihat surat tanpa pengirim. Dari dalam tubuhnya, keringat dingin mengucur, detak jantungnya terdengar. Sepucuk surat tergeletak di atas meja. Seisi kelas yang masih tampak kosong, hanya meja, kursi dan beberapa gambar pahlawan dengan figura jati. Maklum saja, Ika kalau sedang giliran piket kelas paling pagi datangnya.

“Siapa ya yang meletakan surat ini? tanya sama siapa?” batinnya bertanya. “Apa sama kursi, meja. Ah bodoh amat, emangnya gue pikirin”

“Pagi non !” sapa cowok idola SMA-nya itu. “Eh, kamu…Di-di. Piket ya?” tanya Ika agak terkejut. 

“Iya donk, masak sama temen satu kelas lupa?”

“Aduh, kenapa gue sampai lupa sama cowok sekeren Andi” batinnya berkata.


****

Ika, ini jejak terakhir untukmu. Temui aku di kantin sekolah, Istirahat pertama nanti.
Aku

“Apa, jejak terakhir, jejak terakhir apa?” pertanyaan-pertanyaan itu terus menghantui Ika hingga bel istirahat pertama berbunyi. Baru Ika mau melangkah keluar kelas. “Ika kemari sebentar!” panggil Bu Eva, guru Matematikanya.

“Kamu bendahara kelas ya?” tanya Bu Eva. “Iya Bu”

“Kalau begitu tolong uang Buku LKS (Lembar Kerja Siswa) Matematika dikumpul secepatnya” lanjut Bu Eva. Dengan langkah agak dipercepat ia menuju kantin sekolah.

“Ika, kemari sebentar!” kali ini giliran Pak Irawan, guru Olahraga sekaligus Pembina OSIS yang terkenal ditakuti anak-anak SMA 2, memanggilnya.”Nanti sore rapat OSIS. Jangan lupa bawa buku kas OSIS” ingat Pak Irawan. Begitu Pak Irawan mengakhiri pembicaraan langsung disambut bel masuk. Dengan wajah kecewa Ika masuk ke kelasnya.

****

Seminggu sudah Ika aman dari surat misterius. Tetapi sejak Kamis minggu lalu, cewek-cewek di SMU 2 gempar. Soalnya cowok yang serba wah, wah pintarnya, wah kerennya, wah aktifnya dan wah…wah…, pindah ke Palembang.

“Ika loe tidak merasa kehilangan atas kepindahan Andi, si cowok super wah kita itu?” tanya Eria. “Kenapa gue sibuk-sibuk, cowok gue bukan. Gitu aja dipikirin” jawab Ika santai. Tetapi dalam hati, Ika juga merasa sedih. Ternyata Ika diam-diam sudah sejak lama suka dengan Andi, tapi ia tidak berani mengungkapkannya.

“Ika, nih ada surat buat loe” kata Rima.

***

Ika membuka amplop surat bertanda kilat khusus yang ia terima pagi tadi di sekolah dan perlahan ia membaca isinya.

Dear Ika

Ika, tentu selama satu minggu ini loe merasa aman karena sudah tidak ada surat misterius lagi. Sebenarnya gue pengen bilang “I Love You” saat di kantin sekolah minggu lalu. Tapi sudah gue tunggu-tunggu loe nggak datang juga. Ika sungguh gue nggak bohong, gue cinta sama loe. Bila loe ada waktu please balas surat gue.

With Love Andi.

Oh my God. Andi ternyata orang yang selama ini mengirimkan surat misterius. “Kenapa gue nggak tahu kalau Andi suka sama gue” sesal Ika.

Kini jejak surat cinta telah berakhir. Andi lah orang yang membuat Ika bertanya-tanya dan menjadi dalang surat misterius itu “Coba dari dulu gue tahu” ratap Ika.

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More